“Kring..Kring..Kring”,
suara telfon masuk di handphone ku..
“Haloo…Kenapa
Fan??”, jawabku dengan setengah sadar..
Maklum saja ini hari minggu, aku
terbiasa bangun siang jika hari bermalas-malasan tiba. Meski sebenarnya hari
macam ini hanya ada dalam kamus ku sendiri, namun karena terbiasa kulakukan
sehingga hal ini menjadi sebuah kebiasaan dalam hidup ku.
“Kemana Lu hari ini??”,
Ternyata Ifan teman ku yang semalam menanti kami di café untuk nonton bareng.
“Gak
tau memang kenapa Fan?”, aku bertanya balik.
Sebenarnya aku sangat malas sekali jika
hari ini mesti kuhabiskan dengan bermain keluar, karena aku yakin Ifan pasti
akan mengajakku bermain bersamanya hari ini.
“Anterin gw yuk
keliling-keliling?”,
“Gak
ah gw mau dikosan aja”,
Karena aku sudah tahu kemana dia akan
mengajakku pergi hari ini. Aku hafal sekali tempat bermain Ifan, selain dia
mengunjungi ku dikosan, pasti dia akan menganjakku kepasar burung. Hal yang
sangat aku hindari jika bersama dengan ‘Mr.
Black Bird’ satu ini, kami menjuluki demikian karena dalam kepala Ifan
hanya ada dua hal, makan dan burung. Aku pernah sekali diajaknya kesana, dan
apa yang aku alami itu sangat menyedihkan. Dia terbuai dengan kegemarannya
memilah-milah burung, seolah dia akan menjadi seorang pembeli, sementara aku
yang tidak paham sama sekali, dan berharap tidak paham hanya diam mendengarkan
percakapan Ifan dengan penjual burung berjam-jam lamanya.
“Yasudah kalau begitu, gw ajak enak
gak mau??”, dia mencoba membuat aku menyesal dengan
apa yang kuputuskan barusan, dan segera mematikan telfonnya.
Badanku yang masih terbujur di kasur
dengan alas berwarna merah dengan corak kembang-kembang, mencoba mengembalikan
ruhku yang baru saja pergi setelah hampir enam jam tertidur pulas.
Mataku menatap tajam dengan pandangan
mengarah pada dinding yang berada tepat dihadapanku, dan melihat jam dinding
yang menempel sudah menunjukkan pukul 09.30 waktu kosan.
“Ini waktunya memanjakan diri!!!”,
hati ku berkata diiringi dengan langkah tegap berdiri menuju kamar mandi yang
berada diluar kamar, untuk membasuh muka.
Aku memang bukan tipe pemuda yang suka
bermain keluar tanpa alasan dan tujuan yang jelas. Apa lagi, selama lebih dua
tahun sejak pertama kali aku hijrah kekota, waktu liburku lebih banyak
kuhabiskan untuk bersantai dikamar kos dengan kegiatan-kegiatan yang aku sukai,
seperti membaca, bermain game, dan lain-lain.
Namun bukan itu saja alasan mengapa aku
menolak permintaan Ifan saat menelfonku tadi. Terlebih sebenarnya aku sudah ada
janji dengan Fatimah sore ini untuk pergi bersamanya. Biarpun baru nanti sore
aku menjemput Fatimah, tapi aku paham sekali karakter Ifan seperti apa, kalau
sudah main dengannya, aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia akan
memaksaku untuk terus bersamanya sampai dia benar-benar lelah dan mengucapkan
kalimat, “yok pulang..gw udah di sms
bapak gw”, dasar bujang rumahan.
Pertemuanku pertama kali dengan Ifan
terjadi saat kami berada di semester dua, kami ikut dalam sebuah organisasi
kampus Senat Mahasiswa, sebagai anggota baru pada saat itu kami diharuskan
untuk mengikuti fit and proper test yang diintruksikan oleh panitia rekrutmen
anggota senat mahasiswa tersebut, kalau digambarkan tidak jauh berbeda dengan
tes-tes yang dilakukan oleh calon kepala daerah untuk mendapatkan perahu
partai-lah.
Ada beberapa ujian yang mesti kami
lewati sebelum kami resmi dilantik sebagai anggota resmi.
“Ah!!!repot
sekali untuk ikut ikut beginian, meski pakai tes segala!!!”,
gerutu ku pada saat itu.
“Jangan-jangan nanti ada main
suap-menyuap lagi, supaya dapat diterima, kan lumrah seperti pada saat kita
mengikuti tes seleksi pegawai negeri!!”, aku mencoba mengira-ngira dengan
picik.
Alkisah, kami dihadapkan pada tes
tertulis disuatu ruangan kelas yang menjadi tempat tes rekrutmen anggota
organisasi tersebut. Sialnya, aku lupa membawa ballpoint, padahal seingatku
sudah dimasukkan dalam tas ku tadi pagi sebelum berangkat. Karena semalam aku
memakainya untuk mengerjakan tugas mata kuliah media cetak.
Sebagai calon anggota baru, aku merasa
gugup dan malu untuk menyampaikannya kepada panitia seleksi.
Mataku liar mengelilingi seluruh
ruangan, dan melihat disampingku ada seorang pria berkulit hitam kemanisan,
tingginya tidak lebih dari tinggi badan ku. Jika ku amati, wajahnya tidak lebih
tampan dibandingkan aktor Srimulat, mas Tarzan.
“Mas ada pulpen dua tidak??”,
aku membisikannya, dengan tubuh yang kuayunkan kesebelah.
“Gak ada mas, Cuma satu, kalo mau
ni ada pensil?”, Pria itu menjawab suara yang tidak begitu bagus jika dia
menjadi seorang penyanyi.
“Permisi kak..pakai pensil boleh
tidak untuk mengisi jawaban, karena pulpen saya hilang!!”,
aku mencoba memecah keheningan kelas, dengan bertanya dengan salah satu panitia
yang ada dihadapan kami.
“Gak papa, pakai saja!!”, jawab wanita
manis dihadapan kami, namanya Mba Nisa, dia adalah panitia seleksi, parasnya
anggun, memiliki lesung pipit dipipinya. Banyak mahasiswa baru ingin menjadi
anggota senat mahasiswa dengan motif ingin lebih dekat dengannya.
“Makasih
kak!!!”, jawab ku segera..
“Mas mana pensilnya??”,
segera aku palingkan wajah kesebelah kiri tepat dihadapan pria mungil dengan
kulit hitam manisnya.
“Nih!!”.
Setelah keluar dari ruang tes tersebut
aku dan pria hitam manis yang meminjamkan pensil tadi berbincang-bincang
sejenak. Dari situ aku tahu namanya adalah Ifan, dia mahasiswa dari jurusan
Pemerintahan, satu angkatan dengan ku. Ifan merupakan anak kota yang perangainya
melambangkan kehidupan remaja kota, aku dapat melihat dari gayanya berbicara,
dan berpenampilan. Benar-benar berbeda denganku, dalam berbicara Ifan selalu
menggunakan pilihan kata, yang asing sekali kudengar, karena aku belum pernah
menemukannya saat aku berbicara dengan teman-temanku dikampung. Penampilannya
pun, sangat berbeda dengan penampilanku, yang serba apa adanya.
Namun sejak saat itu dalam keseharian ku
dikampus, kami sering berbincang-bincang, Ifan sangat mudah bergaul, dan dia
bukan seperti kebanyakan remaja kota yang suka memilih-milih teman bergaul.
Oleh sebab itu aku memperkenalkannya kepada temanku Meiza, dan setelah itu
kehidupanku selalu ditemani oleh mereka berdua.
Meski kami berlainan jurusan, seolah itu
bukan alasan untuk menghalangi kami bersahabat, aku mahasiswa Public Relations,
Meiza mahasiswa Sosiologi dan Ifan adalah mahasiswa Pemerintahan. Sungguh
pertemanan yang menyenangkan, seandainya semua masyarakat Indonesia bisa saling
menghargai perbedaan suku, agama dan status sosial, aku yakin Indonesia akan
hidup sebagai Negara yang damai dan tentram.
|
|
“Hari
ini benar-benar kunikmati”…
Kebiasaanku membuat kopi setelah bangun
dari tidur, selalu kupelihara. Meski banyak orang yang memintaku untuk
mengurangi minum kopi, dengan alasan kesehatan, selalu aku menghiraukannya.
Bagiku..Minum Kopi adalah tradisi
keluarga kami, bahkan saat aku masih berusia enam tahun, aku sangat sering
meminum kopi milik nenek. Terkadang aku dimarahi oleh nenek dan paman-pamanku,
namun aku sangat “membandel”, aku tidak peduli, yang penting aku minum kopi,
meski aku tahu pasti dimarahi setelahnya. Karena pada dasarnya manusia rela
berkorban untuk hal-hal yang disukainya. Termasuk rela dimarahi hanya untuk
meminum kopi yang sejak umur enam tahun sudah menajdi minuman favorit dalam
hidupku.
“Gimana jadi gak hari ini?”,
Aku membuka pesan di handphone ku, yang
ternyata sudah ada sejak aku tidur tadi, namun baru setelah aku duduk santai
sambil nonton televisi dan meminum kopi hangat buatan ku tadi, baru aku
tersadar saat melihat ada tulisan “1
Pesan Diterima” dari handphone ku.
“Maaf..baru bales, ia jadi kok!!”,
Sebagai bentuk penyesalan, khawatir si
pengirim SMS tadi yang tak lain Fatimah, marah karena terlalu lama menunggu
balasan ku..
Terus terang hari ini aku gugup sekali,
aku tidak bisa membayangkan apa yang nanti akan terjadi dengan ku. Menjemput
seseorang dirumahnya, yang jangankan alamatnya, manusianya pun aku belum pernah
bertemu.
Selain itu, aku mesti menjemput pakai
apa? Aku tidak memiliki kendaraan, kecil kemungkinannya jika aku mesti
menjemputnya dengan menaiki angkutan umum. “apa
kata dia nanti??”.
“Ia gak papa, pasti kamu baru
bangun!!! Jam empat jemput aku dirumah ya!!”, dia membalas
seolah dia tahu apa yang terjadi dengan ku. Namun, ada yang mengganjal saat aku
membaca pesannya, seolah aku mengetahui alamat rumahnya.
“Oke..kirimkan alamat rumahmu ya..”,
aku segera menepis kegundahan hati dengan bertanya alamat rumahnya.
Semoga alamatnya tidak begitu rumit
untuk mencarinya, maklum saja meski sudah dua tahun lebih aku tinggal disini,
masih banyak tempat yang belum pernah ku jelajahi. Baru-baru saja aku tersasar
disebuah komplek dipusat kota, yang menurutku jalannya begitu rumit sekali.
Untung saja, aku bertanya-tanya pada penduduk disekitar, sehingga aku dapat
keluar dari ketersesatan itu. Benar kata pepatah kuno bilang “malu bertanya
sesat dijalan”.
“Nih
alamatnya… ##@@@***”, Fatimah menjelaskan alamat rumahnya
Setelah aku membaca pesan tersebut, bak
gayung bersambut, aku benar-benar tidak paham alamat rumah Fatimah. Seketika,
aku dilanda kebingungan tingkat tinggi!!Bagaimana aku mencarinya??
“Makasih ya!!”,
Sudah jelas aku tidak tahu alamatnya,
tapi kenapa aku tidak meminta Fatimah menjelaskan secara rinci tentang
keberadaan rumahnya, setidaknya itu bisa membantu untuk mencari tempat dimana
Fatimah tinggal.
“Gengsi
ini membunuhku!!”.
Seketika fikiran ku tertuju pada seorang
sahabat ku dikampus, yang aku yakini dia sangat paham semua tentang semua
alamat dikota ini. Maklum saja, selain dia wakamsi (warga kampung sini), dia
adalah sahabatku yang memiliki jaringan pertemanan lebih banyak dibandingkan teman-temanku
yang lain.
Jendro begitu biasa memanggilnya, nama
aslinya Hendriawan Simanjuntak. Pria asli Sumatera Utara, namun karena orang
tuanya telah hijrah dikota ini sebelum menikah dan akhirnya menikah dirantauan,
maka Jendro lahir dikota ini, dan belum pernah sama sekali menginjakkan kaki
ditanah nenek moyangnya tersebut. Jendro adalah sahabatku yang paling cerdas
seantero jagat menurutku. Karena setiap kali dia bicara, hampir dipastikan
didalam kalimatnya tersisip sebuah teori-teori yang dia dapat di kelas. Jendro
adalah satu-satunya sahabatku yang memiliki suara merdu, bahkan menurut kami
suaranya melebihi suara Afgan, maklum saja setiap akhir pekan Jendro menjadi
vocal untuk lagu-lagu rohani di gereja. Selain itu, ia pun memiliki sifat
kesetiakawanan yang sangat tinggi.
Pernah suatu ketika dia sedang berada
dirumahnya yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalku dikota ini. Seingatku
pada saat itu, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Waktu yang tepat
untuk melangkahkan tubuh menuju kamar tidur, disamping kebetulan diluar sedang
hujan lebat, maka dipastikan tidur adalah pilihan yang paling tepat untuk
Jendro.
Malam itu aku benar-benar menjadi orang
yang paling bodoh!!, ceritanya aku
sedang diperjalanan pulang dari rumah pamanku dikota sebelah. Karena baru saja
pamanku mengadakan syukuran atas kelahiran anaknya yang kedua. Sebenarnya
tempat tinggal pamanku tidak begitu jauh, dapat ditempuh dalam waktu kurang
dari satu jam jika menggunakan kendaraan sendiri. Hanya saja, dikarenakan aku
tidak memiliki kendaraan, maka perjalanan ku lakukan dengan menggunakan
angkutan umum, yang dapat memakan waktu sekitar satu setengah jam perjalanan,
dengan dua kali menaiki kendaraan yang berbeda.
Aku berangkat dari rumah pamanku pada
jam Sembilan malam, meski sebelumnya pamanku menahan agar aku bermalam disana.
Namun pertimbangannya besok aku harus ada dikampus karena sudah janji dengan
salah satu dosenku untuk bertemu dengannya pukul 09.00, jadi aku tidak mungkin
melakukan perjalanan besok disamping aku tahu ada beberapa materi yang mesti
dipersiapkan. Sehingga aku paksakan dengan menolaknya, dan segera lekas meminta
izin untuk pamit.
Sebuah angkutan bis antar kota
menghantarkanku pada sebuah terminal yang tidak begitu besar ukurannya jika
dibandingkan terminal yang ada dikota. Maklum saja ini hanya sebuah tempat
transit untuk melanjutkan perjalanan menuju kota dengan menggunakan angkutan
umum. Aku melihat disekelilingku, ternyata bukan hanya aku yang melakukan
perjalanan malam ini, kuhitung ada sekitar enam orang yang terdiri dari dua
wanita yang jika kulihat usianya sekitar 40-50 tahun, dan empat laki-laki
termasuk aku.
Nampaknya malam itu merupakan perjalanan
yang amat cukup panjang bagi kami, tiba-tiba hujan lebat mengguyur bagaikan
pertempuran Kerajaan Otoman yang berusaha menaklukan Konstantinopel, dengan
ratusan ribu prajuritnya. Seketika diriku merasakan kegusaran yang entah tidak
tahu alasannya, namun perasaan ini begitu mengganggu perjalananku. Rasanya
dikepala begitu banyak permasalahan yang terfikirkan, aku sendiri merasa heran,
namun segera kau sadari dari mana akar permasalahannya. Yaitu pada saat aku
tidak sengaja merogoh kantong celanaku dan segera tersadar bahwa uangku hilang.
Semua orang yang ada disekelilingku
menatap keheranan dengan perangai yang ku lakukan. Aku berusaha mencari-cari,
disetiap celah kantong celana, dan kuperiksa didalam tasku, ternyata benar
bahwa aku telah kehilangan uang yang meski tidak cukup besar nominalnya, namun
sangat berharga untuk perjalanku malam ini.
“Tuhan tengah mengujiku dengan
kehilangan harta benda yang kumiliki”, betapa manusia tidak bias lepas dari
rasa cinta, namun Tuhan menghimbau agar tidak mencintai secara berlebihan atas
apa yang kita miliki, karena seua tidaklah kekal, dan kekekalan itu hanyalah
milik-Nya, aku begitu bersedih malam itu.
“Haloooo…Ndro….??”,
Aku berusaha mencari bala bantuan dengan
menelfon teman-temanku, beruntunglah setelah tiga kali kutelfon temanku, Jendro
adalah orang yang mengangkat telfonnya, “ahh mungkin yang lain sudah tidur,
maklum ini sudah tengah malam, dan cuacanya hujan pula”, aku mencoba berfikir
positif.
“Ia
pur..kenapa?”,
“Gw
boleh minta tolong gak Ndro??”
“Minta
tolong apa?”
“Jemput
Gw diterminal -Rejo Sari- Gw keilangan uang Ndro!!!”,
“Astaga…Oke..Oke tunggu disana , gw
langsung berangkat sekarang”..Segera Jendro menutup
pembicaraan kami.
Alhamdulillah (-Maha Suci Allah-), dibalik
kesulitan ada kemudahan, benar-benar Allah menunjukkan Jalannya bagi
orang-orang yang ingin berusaha keluar dari kesulitan!!!, aku duduk sembari
merenungkan apa yang aku alami malam itu.
|
|
“Percikan sinar dari matahari siang ini,
teras masuk melalui larik-larik jendela kamarku, kehangatan begitu terasa
disekeliling kamar yang tidak begitu besar ini, aku masih tetap duduk kokoh
dengan segelas kopi yang sengaja kubuat guna menemani ku dalam menikmati minggu
ini”.
“Ndro..lagi apa?”,
aku mencoba menghubungi teman yang baru saja hinggap dikepala ku melalui sebuah
pesan singkat.
Namun nampaknya, Jendro sedang berada
digereja ini kan hari minggu, karena sudah kutunggu-tunggu balasannya tak
kunjung dibalas.
Entah apa yang membawa fikiran ku
melayang-melayang, sampai membawaku teringat pada seorang tua renta, yang
wajahnya begitu akrab sekali dikehidupanku. Dia seolah tersenyum dihadapanku,
matanya begitu tajam memandangiku dengan penuh harap. Dengan warna rambut yang
nyaris tidak lagi berwarna hitam digantikan putih, dan kulit yang sudah keriput
karena telah dihabiskan oleh zaman.
Wanita ini seolah memanggilku agar
mendekatinya, ia berusaha membuka tabir masa laluku yang dijalani bersamanya
hingga aku pergi dari kampung halaman sekitar dua tahun yang lalu.
Ya!! Dia adalah nenek ku, dia adalah
wanita yang menghantakan aku dari seorang bayi sampai aku sebesar ini. Sejak
ibu meninggal pada saat melahirkanku, neneklah satu-satunya yang kumiliki
didunia ini, dia yang selalu merawat dan menjaga aku dalam setiap suka dan
duka.
Ayahku adalah seorang yang gagah dan
berani, ia begitu menyayangiku dan sangat menantikan ku lahir pada saat aku
masih berada dikandungan. Hanya nahas, sebelum aku terlahir kedunia, ayahku
sudah lebih dulu pergi dari dunia ini lantaran motor yang dikendarainya saat
hendak pulang dari rumah temannya tertabrak mobil berukuran besar, belum sempat
sampai dirumah sakit, nyawa ayahku sudah tidak tertolong.
Sementara ibuku, adalah orang yang
begitu menyayangi ayahku, sejak kejadian itu, ibuku selalu murung bahkan enggan
keluar rumah, ia hanya bersembunyi dikamar sembari membuka lembaran demi
lembaran foto pernikahan mereka. Kecintaan ibu ku kepada ayah benar-benar
sejati, ketika ia (baca.ibu) melahirkanku, ia mengalami pendarahan yang begitu
banyak dan akhirnya Tuhan memanggil ibuku dari dunia ini untuk segera menyusul
ayahku yang lebih dahulu pergi.
“Tuhan
begitu sayang kepada ayah dan ibumu, sehingga Tuhan memanggil mereka berdua
dari dunia ini”, kalimat itu terdengar dari mulut nenek
ku pada saat ia selesai menceritakan kisah ayah dan ibu ku.
Namun ternyata nenek begitu sempurna
menggantikan posisi ayah dan ibuku didunia ini, meski sampai sebesar ini aku
tidak pernah merasakan kelembutan kasih sayang mereka, namun nenek selalu
mengganti kasih sayang yang membuatku merasa bahwa hidupku tidak pernah sepi
dan sendiri.
“Rasanya
aku ingin sekali pulang kekampung halaman untuk melepas rindu sejenak dan
bercerita tentang kerasnya hidup dikota”. Pasti dia akan
senang, karena cucunya datang dan bercerita, sama halnya ketika aku kecil
dahulu yang selalu bercerita dikala aku pulang setelah bermain dengan
teman-temanku.
|
|
Lamunanku terpecah saat aku mendengar
bunyi dari handphone-ku.
“Maaf pur, bales nya lama..Gw abis
dari gereja”, balasan Jendro yang sudah kutunggu
sejak dua jam yang lalu.
Mataku segera melirik jam yang menempel
didinding kamarku, ternyata sudah menunjukkan jam dua siang lebih. Benar saja
dugaan ku, Jendro tadi masih berada di gereja.
“Ndro..Gw
pinjem motor ya nanti jam setengah empat, boleh gak?”.
“Emang
lu mau kemana?”.
Sekalian aku menjawab pertanyaannya, ini
adalah kesempatan untuk mengetahui alamat rumah Fatimah. Karena aku yakin
Jendro pasti hafal nama tempat-tempat dikota ini.
“Oke…nanti
jam tiga gw kekosan lu..”,
“Sekali
mendayung dua pulau terlewati”, -aku tersenyum setelah
membaca bunyi pesan Jendro barusan-.
Aku sangat bangga
dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang begitu baik kepadaku. Disetiap kekurangan
manusia, Tuhan selalu menciptakan manusia lain untuk menutupi kekurangan kita.
Ini mengingatkan ku tentang kisah Rasulullah SAW, dimana Allah menciptakan
manusia lain seperti Abu Bakar as Shiddiq, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan
dan Ali bin Abi Thalib untuk menemani Muhammad dalam berdakwah menyi’ar kan
Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar