Wikipedia

Hasil penelusuran

Selasa, 28 Januari 2014

Episode kamar Kos




“Kring..Kring..Kring”, suara telfon masuk di handphone ku..
“Haloo…Kenapa Fan??”, jawabku dengan setengah sadar..
Maklum saja ini hari minggu, aku terbiasa bangun siang jika hari bermalas-malasan tiba. Meski sebenarnya hari macam ini hanya ada dalam kamus ku sendiri, namun karena terbiasa kulakukan sehingga hal ini menjadi sebuah kebiasaan dalam hidup ku.
“Kemana Lu hari ini??”, Ternyata Ifan teman ku yang semalam menanti kami di café untuk nonton bareng.
“Gak tau memang kenapa Fan?”, aku bertanya balik.
Sebenarnya aku sangat malas sekali jika hari ini mesti kuhabiskan dengan bermain keluar, karena aku yakin Ifan pasti akan mengajakku bermain bersamanya hari ini.
“Anterin gw yuk keliling-keliling?”,
“Gak ah gw mau dikosan aja”,


Karena aku sudah tahu kemana dia akan mengajakku pergi hari ini. Aku hafal sekali tempat bermain Ifan, selain dia mengunjungi ku dikosan, pasti dia akan menganjakku kepasar burung. Hal yang sangat aku hindari jika bersama dengan ‘Mr. Black Bird’ satu ini, kami menjuluki demikian karena dalam kepala Ifan hanya ada dua hal, makan dan burung. Aku pernah sekali diajaknya kesana, dan apa yang aku alami itu sangat menyedihkan. Dia terbuai dengan kegemarannya memilah-milah burung, seolah dia akan menjadi seorang pembeli, sementara aku yang tidak paham sama sekali, dan berharap tidak paham hanya diam mendengarkan percakapan Ifan dengan penjual burung berjam-jam lamanya.
“Yasudah kalau begitu, gw ajak enak gak mau??”, dia mencoba membuat aku menyesal dengan apa yang kuputuskan barusan, dan segera mematikan telfonnya.
Badanku yang masih terbujur di kasur dengan alas berwarna merah dengan corak kembang-kembang, mencoba mengembalikan ruhku yang baru saja pergi setelah hampir enam jam tertidur pulas.
Mataku menatap tajam dengan pandangan mengarah pada dinding yang berada tepat dihadapanku, dan melihat jam dinding yang menempel sudah menunjukkan pukul 09.30 waktu kosan.
“Ini waktunya memanjakan diri!!!”, hati ku berkata diiringi dengan langkah tegap berdiri menuju kamar mandi yang berada diluar kamar, untuk membasuh muka.

Aku memang bukan tipe pemuda yang suka bermain keluar tanpa alasan dan tujuan yang jelas. Apa lagi, selama lebih dua tahun sejak pertama kali aku hijrah kekota, waktu liburku lebih banyak kuhabiskan untuk bersantai dikamar kos dengan kegiatan-kegiatan yang aku sukai, seperti membaca, bermain game, dan lain-lain.
Namun bukan itu saja alasan mengapa aku menolak permintaan Ifan saat menelfonku tadi. Terlebih sebenarnya aku sudah ada janji dengan Fatimah sore ini untuk pergi bersamanya. Biarpun baru nanti sore aku menjemput Fatimah, tapi aku paham sekali karakter Ifan seperti apa, kalau sudah main dengannya, aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia akan memaksaku untuk terus bersamanya sampai dia benar-benar lelah dan mengucapkan kalimat, “yok pulang..gw udah di sms bapak gw”, dasar bujang rumahan.
Pertemuanku pertama kali dengan Ifan terjadi saat kami berada di semester dua, kami ikut dalam sebuah organisasi kampus Senat Mahasiswa, sebagai anggota baru pada saat itu kami diharuskan untuk mengikuti fit and proper test yang diintruksikan oleh panitia rekrutmen anggota senat mahasiswa tersebut, kalau digambarkan tidak jauh berbeda dengan tes-tes yang dilakukan oleh calon kepala daerah untuk mendapatkan perahu partai-lah.
Ada beberapa ujian yang mesti kami lewati sebelum kami resmi dilantik sebagai anggota resmi.
“Ah!!!repot sekali untuk ikut ikut beginian, meski pakai tes segala!!!”, gerutu ku pada saat itu.
“Jangan-jangan nanti ada main suap-menyuap lagi, supaya dapat diterima, kan lumrah seperti pada saat kita mengikuti tes seleksi pegawai negeri!!”, aku mencoba mengira-ngira dengan picik.
Alkisah, kami dihadapkan pada tes tertulis disuatu ruangan kelas yang menjadi tempat tes rekrutmen anggota organisasi tersebut. Sialnya, aku lupa membawa ballpoint, padahal seingatku sudah dimasukkan dalam tas ku tadi pagi sebelum berangkat. Karena semalam aku memakainya untuk mengerjakan tugas mata kuliah media cetak.
Sebagai calon anggota baru, aku merasa gugup dan malu untuk menyampaikannya kepada panitia seleksi.
Mataku liar mengelilingi seluruh ruangan, dan melihat disampingku ada seorang pria berkulit hitam kemanisan, tingginya tidak lebih dari tinggi badan ku. Jika ku amati, wajahnya tidak lebih tampan dibandingkan aktor Srimulat, mas Tarzan.
“Mas ada pulpen dua tidak??”, aku membisikannya, dengan tubuh yang kuayunkan kesebelah.
“Gak ada mas, Cuma satu, kalo mau ni ada pensil?”, Pria itu menjawab  suara yang tidak begitu bagus jika dia menjadi seorang penyanyi.
“Permisi kak..pakai pensil boleh tidak untuk mengisi jawaban, karena pulpen saya hilang!!”, aku mencoba memecah keheningan kelas, dengan bertanya dengan salah satu panitia yang ada dihadapan kami.
Gak papa, pakai saja!!”, jawab wanita manis dihadapan kami, namanya Mba Nisa, dia adalah panitia seleksi, parasnya anggun, memiliki lesung pipit dipipinya. Banyak mahasiswa baru ingin menjadi anggota senat mahasiswa dengan motif ingin lebih dekat dengannya.
“Makasih kak!!!”, jawab ku segera..
“Mas mana pensilnya??”, segera aku palingkan wajah kesebelah kiri tepat dihadapan pria mungil dengan kulit hitam manisnya.
“Nih!!”.
Setelah keluar dari ruang tes tersebut aku dan pria hitam manis yang meminjamkan pensil tadi berbincang-bincang sejenak. Dari situ aku tahu namanya adalah Ifan, dia mahasiswa dari jurusan Pemerintahan, satu angkatan dengan ku. Ifan merupakan anak kota yang perangainya melambangkan kehidupan remaja kota, aku dapat melihat dari gayanya berbicara, dan berpenampilan. Benar-benar berbeda denganku, dalam berbicara Ifan selalu menggunakan pilihan kata, yang asing sekali kudengar, karena aku belum pernah menemukannya saat aku berbicara dengan teman-temanku dikampung. Penampilannya pun, sangat berbeda dengan penampilanku, yang serba apa adanya.
Namun sejak saat itu dalam keseharian ku dikampus, kami sering berbincang-bincang, Ifan sangat mudah bergaul, dan dia bukan seperti kebanyakan remaja kota yang suka memilih-milih teman bergaul. Oleh sebab itu aku memperkenalkannya kepada temanku Meiza, dan setelah itu kehidupanku selalu ditemani oleh mereka berdua.
Meski kami berlainan jurusan, seolah itu bukan alasan untuk menghalangi kami bersahabat, aku mahasiswa Public Relations, Meiza mahasiswa Sosiologi dan Ifan adalah mahasiswa Pemerintahan. Sungguh pertemanan yang menyenangkan, seandainya semua masyarakat Indonesia bisa saling menghargai perbedaan suku, agama dan status sosial, aku yakin Indonesia akan hidup sebagai Negara yang damai dan tentram.


 
“Hari ini benar-benar kunikmati”…
Kebiasaanku membuat kopi setelah bangun dari tidur, selalu kupelihara. Meski banyak orang yang memintaku untuk mengurangi minum kopi, dengan alasan kesehatan, selalu aku menghiraukannya.
Bagiku..Minum Kopi adalah tradisi keluarga kami, bahkan saat aku masih berusia enam tahun, aku sangat sering meminum kopi milik nenek. Terkadang aku dimarahi oleh nenek dan paman-pamanku, namun aku sangat “membandel”, aku tidak peduli, yang penting aku minum kopi, meski aku tahu pasti dimarahi setelahnya. Karena pada dasarnya manusia rela berkorban untuk hal-hal yang disukainya. Termasuk rela dimarahi hanya untuk meminum kopi yang sejak umur enam tahun sudah menajdi minuman favorit dalam hidupku.
“Gimana jadi gak hari ini?”,
Aku membuka pesan di handphone ku, yang ternyata sudah ada sejak aku tidur tadi, namun baru setelah aku duduk santai sambil nonton televisi dan meminum kopi hangat buatan ku tadi, baru aku tersadar saat melihat ada tulisan “1 Pesan Diterima” dari handphone ku.
“Maaf..baru bales, ia jadi kok!!”,
Sebagai bentuk penyesalan, khawatir si pengirim SMS tadi yang tak lain Fatimah, marah karena terlalu lama menunggu balasan ku..
Terus terang hari ini aku gugup sekali, aku tidak bisa membayangkan apa yang nanti akan terjadi dengan ku. Menjemput seseorang dirumahnya, yang jangankan alamatnya, manusianya pun aku belum pernah bertemu.
Selain itu, aku mesti menjemput pakai apa? Aku tidak memiliki kendaraan, kecil kemungkinannya jika aku mesti menjemputnya dengan menaiki angkutan umum. “apa kata dia nanti??”.
“Ia gak papa, pasti kamu baru bangun!!! Jam empat jemput aku dirumah ya!!”, dia membalas seolah dia tahu apa yang terjadi dengan ku. Namun, ada yang mengganjal saat aku membaca pesannya, seolah aku mengetahui alamat rumahnya.
“Oke..kirimkan alamat rumahmu ya..”, aku segera menepis kegundahan hati dengan bertanya alamat rumahnya.
Semoga alamatnya tidak begitu rumit untuk mencarinya, maklum saja meski sudah dua tahun lebih aku tinggal disini, masih banyak tempat yang belum pernah ku jelajahi. Baru-baru saja aku tersasar disebuah komplek dipusat kota, yang menurutku jalannya begitu rumit sekali. Untung saja, aku bertanya-tanya pada penduduk disekitar, sehingga aku dapat keluar dari ketersesatan itu. Benar kata pepatah kuno bilang “malu bertanya sesat dijalan”.
“Nih alamatnya… ##@@@***”, Fatimah menjelaskan alamat rumahnya
Setelah aku membaca pesan tersebut, bak gayung bersambut, aku benar-benar tidak paham alamat rumah Fatimah. Seketika, aku dilanda kebingungan tingkat tinggi!!Bagaimana aku mencarinya??
“Makasih ya!!”,
Sudah jelas aku tidak tahu alamatnya, tapi kenapa aku tidak meminta Fatimah menjelaskan secara rinci tentang keberadaan rumahnya, setidaknya itu bisa membantu untuk mencari tempat dimana Fatimah tinggal.
“Gengsi ini membunuhku!!”.
Seketika fikiran ku tertuju pada seorang sahabat ku dikampus, yang aku yakini dia sangat paham semua tentang semua alamat dikota ini. Maklum saja, selain dia wakamsi (warga kampung sini), dia adalah sahabatku yang memiliki jaringan pertemanan lebih banyak dibandingkan teman-temanku yang lain.
Jendro begitu biasa memanggilnya, nama aslinya Hendriawan Simanjuntak. Pria asli Sumatera Utara, namun karena orang tuanya telah hijrah dikota ini sebelum menikah dan akhirnya menikah dirantauan, maka Jendro lahir dikota ini, dan belum pernah sama sekali menginjakkan kaki ditanah nenek moyangnya tersebut. Jendro adalah sahabatku yang paling cerdas seantero jagat menurutku. Karena setiap kali dia bicara, hampir dipastikan didalam kalimatnya tersisip sebuah teori-teori yang dia dapat di kelas. Jendro adalah satu-satunya sahabatku yang memiliki suara merdu, bahkan menurut kami suaranya melebihi suara Afgan, maklum saja setiap akhir pekan Jendro menjadi vocal untuk lagu-lagu rohani di gereja. Selain itu, ia pun memiliki sifat kesetiakawanan yang sangat tinggi.
Pernah suatu ketika dia sedang berada dirumahnya yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalku dikota ini. Seingatku pada saat itu, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Waktu yang tepat untuk melangkahkan tubuh menuju kamar tidur, disamping kebetulan diluar sedang hujan lebat, maka dipastikan tidur adalah pilihan yang paling tepat untuk Jendro.
Malam itu aku benar-benar menjadi orang yang paling bodoh!!,  ceritanya aku sedang diperjalanan pulang dari rumah pamanku dikota sebelah. Karena baru saja pamanku mengadakan syukuran atas kelahiran anaknya yang kedua. Sebenarnya tempat tinggal pamanku tidak begitu jauh, dapat ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam jika menggunakan kendaraan sendiri. Hanya saja, dikarenakan aku tidak memiliki kendaraan, maka perjalanan ku lakukan dengan menggunakan angkutan umum, yang dapat memakan waktu sekitar satu setengah jam perjalanan, dengan dua kali menaiki kendaraan yang berbeda.
Aku berangkat dari rumah pamanku pada jam Sembilan malam, meski sebelumnya pamanku menahan agar aku bermalam disana. Namun pertimbangannya besok aku harus ada dikampus karena sudah janji dengan salah satu dosenku untuk bertemu dengannya pukul 09.00, jadi aku tidak mungkin melakukan perjalanan besok disamping aku tahu ada beberapa materi yang mesti dipersiapkan. Sehingga aku paksakan dengan menolaknya, dan segera lekas meminta izin untuk pamit.
Sebuah angkutan bis antar kota menghantarkanku pada sebuah terminal yang tidak begitu besar ukurannya jika dibandingkan terminal yang ada dikota. Maklum saja ini hanya sebuah tempat transit untuk melanjutkan perjalanan menuju kota dengan menggunakan angkutan umum. Aku melihat disekelilingku, ternyata bukan hanya aku yang melakukan perjalanan malam ini, kuhitung ada sekitar enam orang yang terdiri dari dua wanita yang jika kulihat usianya sekitar 40-50 tahun, dan empat laki-laki termasuk aku.
Nampaknya malam itu merupakan perjalanan yang amat cukup panjang bagi kami, tiba-tiba hujan lebat mengguyur bagaikan pertempuran Kerajaan Otoman yang berusaha menaklukan Konstantinopel, dengan ratusan ribu prajuritnya. Seketika diriku merasakan kegusaran yang entah tidak tahu alasannya, namun perasaan ini begitu mengganggu perjalananku. Rasanya dikepala begitu banyak permasalahan yang terfikirkan, aku sendiri merasa heran, namun segera kau sadari dari mana akar permasalahannya. Yaitu pada saat aku tidak sengaja merogoh kantong celanaku dan segera tersadar bahwa uangku hilang.
Semua orang yang ada disekelilingku menatap keheranan dengan perangai yang ku lakukan. Aku berusaha mencari-cari, disetiap celah kantong celana, dan kuperiksa didalam tasku, ternyata benar bahwa aku telah kehilangan uang yang meski tidak cukup besar nominalnya, namun sangat berharga untuk perjalanku malam ini.
“Tuhan tengah mengujiku dengan kehilangan harta benda yang kumiliki”, betapa manusia tidak bias lepas dari rasa cinta, namun Tuhan menghimbau agar tidak mencintai secara berlebihan atas apa yang kita miliki, karena seua tidaklah kekal, dan kekekalan itu hanyalah milik-Nya, aku begitu bersedih malam itu.
“Haloooo…Ndro….??”,
Aku berusaha mencari bala bantuan dengan menelfon teman-temanku, beruntunglah setelah tiga kali kutelfon temanku, Jendro adalah orang yang mengangkat telfonnya, “ahh mungkin yang lain sudah tidur, maklum ini sudah tengah malam, dan cuacanya hujan pula”, aku mencoba berfikir positif.
“Ia pur..kenapa?”,
“Gw boleh minta tolong gak Ndro??”
“Minta tolong apa?”
“Jemput Gw diterminal -Rejo Sari- Gw keilangan uang Ndro!!!”,
“Astaga…Oke..Oke tunggu disana , gw langsung berangkat sekarang”..Segera Jendro menutup pembicaraan kami.
Alhamdulillah (-Maha Suci Allah-), dibalik kesulitan ada kemudahan, benar-benar Allah menunjukkan Jalannya bagi orang-orang yang ingin berusaha keluar dari kesulitan!!!, aku duduk sembari merenungkan apa yang aku alami malam itu.

 


“Percikan sinar dari matahari siang ini, teras masuk melalui larik-larik jendela kamarku, kehangatan begitu terasa disekeliling kamar yang tidak begitu besar ini, aku masih tetap duduk kokoh dengan segelas kopi yang sengaja kubuat guna menemani ku dalam menikmati minggu ini”.
“Ndro..lagi apa?”, aku mencoba menghubungi teman yang baru saja hinggap dikepala ku melalui sebuah pesan singkat.
Namun nampaknya, Jendro sedang berada digereja ini kan hari minggu, karena sudah kutunggu-tunggu balasannya tak kunjung dibalas.
Entah apa yang membawa fikiran ku melayang-melayang, sampai membawaku teringat pada seorang tua renta, yang wajahnya begitu akrab sekali dikehidupanku. Dia seolah tersenyum dihadapanku, matanya begitu tajam memandangiku dengan penuh harap. Dengan warna rambut yang nyaris tidak lagi berwarna hitam digantikan putih, dan kulit yang sudah keriput karena telah dihabiskan oleh zaman.
Wanita ini seolah memanggilku agar mendekatinya, ia berusaha membuka tabir masa laluku yang dijalani bersamanya hingga aku pergi dari kampung halaman sekitar dua tahun yang lalu.
Ya!! Dia adalah nenek ku, dia adalah wanita yang menghantakan aku dari seorang bayi sampai aku sebesar ini. Sejak ibu meninggal pada saat melahirkanku, neneklah satu-satunya yang kumiliki didunia ini, dia yang selalu merawat dan menjaga aku dalam setiap suka dan duka.
Ayahku adalah seorang yang gagah dan berani, ia begitu menyayangiku dan sangat menantikan ku lahir pada saat aku masih berada dikandungan. Hanya nahas, sebelum aku terlahir kedunia, ayahku sudah lebih dulu pergi dari dunia ini lantaran motor yang dikendarainya saat hendak pulang dari rumah temannya tertabrak mobil berukuran besar, belum sempat sampai dirumah sakit, nyawa ayahku sudah tidak tertolong.
Sementara ibuku, adalah orang yang begitu menyayangi ayahku, sejak kejadian itu, ibuku selalu murung bahkan enggan keluar rumah, ia hanya bersembunyi dikamar sembari membuka lembaran demi lembaran foto pernikahan mereka. Kecintaan ibu ku kepada ayah benar-benar sejati, ketika ia (baca.ibu) melahirkanku, ia mengalami pendarahan yang begitu banyak dan akhirnya Tuhan memanggil ibuku dari dunia ini untuk segera menyusul ayahku yang lebih dahulu pergi.
“Tuhan begitu sayang kepada ayah dan ibumu, sehingga Tuhan memanggil mereka berdua dari dunia ini”, kalimat itu terdengar dari mulut nenek ku pada saat ia selesai menceritakan kisah ayah dan ibu ku.
Namun ternyata nenek begitu sempurna menggantikan posisi ayah dan ibuku didunia ini, meski sampai sebesar ini aku tidak pernah merasakan kelembutan kasih sayang mereka, namun nenek selalu mengganti kasih sayang yang membuatku merasa bahwa hidupku tidak pernah sepi dan sendiri.
“Rasanya aku ingin sekali pulang kekampung halaman untuk melepas rindu sejenak dan bercerita tentang kerasnya hidup dikota”. Pasti dia akan senang, karena cucunya datang dan bercerita, sama halnya ketika aku kecil dahulu yang selalu bercerita dikala aku pulang setelah bermain dengan teman-temanku.

Selalu saja aku menceritakan kisah teman-temanku, pada saat kami bermain. Dan Nenek selalu senang menjadi pendengar setiaku, dari wajahnya aku melihat bahwa nenek begitu paham aku merasa kesepian, aku tidak memiliki adik apa lagi kakak. Aku hanya berdua dengan nenek dirumah tua yang sisi-sisinya terbuat dari kayu yang cukup amat lama.

Lamunanku terpecah saat aku mendengar bunyi dari handphone-ku.
“Maaf pur, bales nya lama..Gw abis dari gereja”, balasan Jendro yang sudah kutunggu sejak dua jam yang lalu.
Mataku segera melirik jam yang menempel didinding kamarku, ternyata sudah menunjukkan jam dua siang lebih. Benar saja dugaan ku, Jendro tadi masih berada di gereja.
“Ndro..Gw pinjem motor ya nanti jam setengah empat, boleh gak?”.
“Emang lu mau kemana?”.
Sekalian aku menjawab pertanyaannya, ini adalah kesempatan untuk mengetahui alamat rumah Fatimah. Karena aku yakin Jendro pasti hafal nama tempat-tempat dikota ini.
“Oke…nanti jam tiga gw kekosan lu..”,
“Sekali mendayung dua pulau terlewati”, -aku tersenyum setelah membaca bunyi pesan Jendro barusan-.
Aku sangat bangga dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang begitu baik kepadaku. Disetiap kekurangan manusia, Tuhan selalu menciptakan manusia lain untuk menutupi kekurangan kita. Ini mengingatkan ku tentang kisah Rasulullah SAW, dimana Allah menciptakan manusia lain seperti Abu Bakar as Shiddiq, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan dan Ali bin Abi Thalib untuk menemani Muhammad dalam berdakwah menyi’ar kan Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar