Matahari
sudah beranjak meninggalkan bumi, sebuah isyarat bahwa hari ini akan segera
dilahap oleh malam. Betapapun hari ini, setidaknya ada peristiwa besar yang
akan ku lalui hari ini. Sebuah pertemuan sederhana yang telah kutunggu sejak
enam belas hari yang lalu.
Berkali-kali
ku tatap wajah ku dari sebuah cermin yang tampak telah pecah, sebuah perasaan
gugup, bahagia dan was-was bercampur aduk. Seakan baru kali ini aku merasakan
hal semacam ini dalam kehidupanku.
Wajah
Fatimah sesekali kubayangkan meski aku tidak tahu seperti apa wajahnya, namun
aku mencoba menebak sendiri wajahnya. Enam belas hari hanya dapat kudengar
suaranya yang tidak begitu baik jika ia menjadi seorang penyanyi, namun
candaannya dipenghujung telfon begitu mengundang rindu.
Jujur
saja, aku mulai mencintai sesuatu yang tidak pernah kuketahui seperti apa
bentuknya. Namun begitulah rupa cinta, ia tak mengenal rupa, juga bentuk,
sekali perasaan itu hinggap maka logika akan menjadi nomor dua. Bukankah Tuhan
pun tidak berupa? Tetapi kita ternyata mencintai-Nya. Pun dengan Baginda
Rasulullah, yang selama ini hanya dapat kita dengarkan eritanya dan riwayatnya,
ternyata kita begitu mencintainya. “Ahhh..Sudahlah apapun alasannya tidak ada
satupun logika dan kata yang dapat merangkai sebuah kalimat untuk emngambarkan
perasaan cinta”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar