Wikipedia

Hasil penelusuran

Selasa, 28 Januari 2014

Surat cinta di penghujung Senja



Matahari sudah beranjak meninggalkan bumi, sebuah isyarat bahwa hari ini akan segera dilahap oleh malam. Betapapun hari ini, setidaknya ada peristiwa besar yang akan ku lalui hari ini. Sebuah pertemuan sederhana yang telah kutunggu sejak enam belas hari yang lalu.
Berkali-kali ku tatap wajah ku dari sebuah cermin yang tampak telah pecah, sebuah perasaan gugup, bahagia dan was-was bercampur aduk. Seakan baru kali ini aku merasakan hal semacam ini dalam kehidupanku.
Wajah Fatimah sesekali kubayangkan meski aku tidak tahu seperti apa wajahnya, namun aku mencoba menebak sendiri wajahnya. Enam belas hari hanya dapat kudengar suaranya yang tidak begitu baik jika ia menjadi seorang penyanyi, namun candaannya dipenghujung telfon begitu mengundang rindu.
Jujur saja, aku mulai mencintai sesuatu yang tidak pernah kuketahui seperti apa bentuknya. Namun begitulah rupa cinta, ia tak mengenal rupa, juga bentuk, sekali perasaan itu hinggap maka logika akan menjadi nomor dua. Bukankah Tuhan pun tidak berupa? Tetapi kita ternyata mencintai-Nya. Pun dengan Baginda Rasulullah, yang selama ini hanya dapat kita dengarkan eritanya dan riwayatnya, ternyata kita begitu mencintainya. “Ahhh..Sudahlah apapun alasannya tidak ada satupun logika dan kata yang dapat merangkai sebuah kalimat untuk emngambarkan perasaan cinta”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar