“Ia..Maaf
Siapa ini??”, Aku
membaca sebuah SMS balasan di HP ku..
“Maaf aku mengganggu aku Purnama temannya
Ismayatun”, segera aku membalas SMS dari Fatimah.
Seorang wanita yang belum aku ketahui parasnya,
apalagi perangainya. Namun karena ini salah satu saran yang dianjurkan sahabatku
Ismayatun, maka aku lakukan saja. Disamping itu, aku pun sadar bahwa dengan peristiwa
yang aku alami kemarin-kemarin, jujur saja aku membutuhkan teman lain untuk saling
berbagi.
Setelah
dua hari aku bertemu Ismayatun, aku mencoba mengikuti sarannya, untuk menghubungi
sahabatnya yang bernama Fatimah. Sebenarnya, aku ingin sekali menelfon Fatimah,
namun aku sadar ada beberapa alasan yang mengurungkan niatku, yang pertama kami
belum saling kenal, aku khawatir nanti tanggapan Fatimah datar-datar saja,
kedua aku pun cukup sadar biaya untuk menelfon cukuplah menguras kocek, apalagi
aku seorang mahasiswa yang bisa di bilang ongkosnya pas-pasan..
Maklum
mahasiswa rantau, “pacar gak punya hutang
dimana-mana!!!”,sambil mengingat lirik sebuah lagu.
Jadi
pilihan bijaknya adalah melakukan pendekatan melalui SMS, selain terjangkau,
provider selulerku pun banyak gratis SMS nya, ‘menyedihkan’. Proses pendekatan awalnya
adalah dengan mengirimkan SMS yang bunyinya..
“Ini Fatimah ya?”,
tanyaku..
Terang
saja itu Fatimah!!! tidak mungkin Ismayatun membohongiku dengan memberi nomor
yang salah. Namun sebagai langkah basa-basi yang cukup kuno, rupanya cara ini cukup
berhasil.
Setalah
dua hari komunikasi antara kami, melalui SMS akhirnya kuberanikan untuk
menelfon Fatimah. Seperti yang sudah ku bayangkan sebelumnya, Fatimah hanya
berbicara dengan intonasi yang datar, terkesan cuek dan angkuh.
Ahhh!!!..Aku kan baru kenal dengan nya,
apa lagi dia seorang wanita, tidak mungkin dia langsung berani mengakrabkan
diri dengan orang yang baru dikenalnya apalagi belum jelas bibit bebet nya, aku
berfikir positif dengan apa yang ku terima.
Setidaknya, setelah telfon ku matikan
aku sedikit banyak tahu siapa Fatimah. Mengingat apa yang disarankan oleh
Ismayatun, Fatimah adalah sahabatnya dikampus. Fatimah merupakan teman satu
jurusan Ismayatun, mereka kenal akrab satu sama lain.
Apakah sama halnya dengan Ismayatun
mengenal siapa aku??, Nalar ku bertanya.
Fatimah adalah sosok wanita yang hobi
menonton sepakbola, karena dia menceritakan soal perkembangan Piala Dunia, yang
kebetulan tadi malam Jerman baru saja memenangkan perempat final Piala Dunia
melawan kesebelasana Argentina dengan Skor Empat-Satu untuk Jerman.
Dan
anehnya, Argentina adalah tim idola ku sejak aku duduk dibangku sekolah dasar.
Karena sejak kelas empat aku selalu disuguhkan pembicaraan tentang Gabriel Omar
Batistuta, oleh pamanku. Pamanku selalu dengan semangat yang berapi-api saat
dia mulai membicarakan Superiortas Batistuta, apa lagi saat dia berhasil
mencetak gol dalam sebuah pertandingan.
Seolah
terhipnotis pamanku, sejak saat itu pula aku menahbiskan diri sebagai pengidola
baru, seorang anak kecil yang tidak paham Sepakbola namun begitu mengidolakan
Batistuta. Seiring dengan itu pula, aku mulai suka menonton pertandingan sepakbola
dilayar kaca, dan bisa dibilang aku hanya penggemar pemain, bukan tim
sepakbolanya. Jadi dimanapun Batistuta bermain disitulah aku turut menyukai tim
yang dibelanya.
Sementara
itu, Fatimah sangat mengidolakan Timnas Jerman!!, meski dia tidak mengutarakan langsung
namun dengan nada bangga saat menceritakan kemenangan Jerman, aku tahu dia
memfavoritkan Jerman di Piala Dunia yang di gelar di Afrika Selatan tersebut.
Sejak
saat itu pula, tanpa kami sadari, awal hubungan kami bermula saat kami
membicarakan tentang sepakbola.
“Jadi apa alasan kamu memfavoritkan
Jerman??”, aku bertanya disela-sela pembicaraan saat
menelfonnya.
“Pemainnya tampan-tampan dan jersey
nya bagus!!”,
Dasar wanita zaman sekarang, semua
selalu dilihat dari apa yang nampak!!, fikirku dengan miris.
Sudah hampir seminggu kami berkomunikasi via telfon, tak
sedikitpun pembicaraan kami yang mengarah untuk bertemu. Aku merasa kami saling
menahan diri satu sama lain. Dengan sedikit menyimpulkan, fatimah sebenarnya
membuat aku nyaman untuk beberapa saat. Meski komunikasi kami hanya sebatas
melalui media telefon, namun rasanya kami sudah saling mengenal.
Disisi
lain, aku sangat pesimis dengan keangkuhan yang ditunjukan Fatimah. Maklum saja
gaya anak Kota rasanya cukup melegitimasi sikapnya kepada orang yang baru di
kenal apa lagi masih tidak jelas siapa orangnya.
Hampir
sepanjang malam kami telfonan, dan menyedihkannya selalu saja aku yang memulai
untuk membuka komunikasi diantara kami berdua.
“Wanita
kadang makhluk yang paling naif didunia”, gerutuku dalam
hati.
“Kartini selalu mengelu-elu kan
kesetaraan gender, posisi wanita dan pria mesti sama. Tetapi kenapa dalam dunia
macam ini selalu wanita berharap diistimewakan”,
keluh ku dalam hari.
“tok..tok..tok”, suara
ketukan dari pintu kamar kos ku.
Aku cukup terkejut, siapa gerangan yang
mengetuk pintu kamarku, karena baru saja aku pulang dari kampus pukul 16. 47
waktu kosan ku. Sebenarnya aku bermaksud istirahat sembari memuaskan hobi ku
dalam membaca, tiba-tiba ada yang menggangu.
Dengan gaya malas aku beranjak dari
kursi dalam kamar kos ku untuk membuka pintu.
“malem ini mau ikut nonton bareng
gak?”,
Tanya seorang pria dengan tinggi badan
sekitar 172 cm dan rambut menyerupai aktor laga kawakan Andy Lau.
Namanya Meiza lelaki yang banyak disukai
oleh kaum hawa karena ketampanannya ini, merupakan orang pertama yang aku kenal
saat pertama kali aku menjadi mahasiswa baru. Kebetulan kami diperkenalan oleh
sahabat ku dari kampung, namun ia sejak Sekolah Menengah Atas (SMA) sudah
berdomisili di kota, yaitu Alen yang merupakan kekasih Meiza. Kami bertemu
disebuah rumah makan ketika kami makan siang, saat tengah melakukan pembayaran
administrasi sebagai mahasiswa baru. Namun ternyata aku dan Meiza ditakdirkan
lain, kami berada di fakultas yang sama. Meski kami berlainan jurusan, namun
karena sejak awal kami saling kenal, hubungan itu berlanjut setiap hari di
kampus dan bahkan kami bermain bersama diluar kampus.
Tuhan begitu adil, Ia selalu membuat
sebuah rekayasa yang tidak pernah diduga oleh Makhluk-Nya. Tuhan Maha Tahu apa
yang di butuhkan oleh Makhluk-Nya, saat aku butuh teman, dengan berbagai macam
usaha yang kulakukan, ternyata Tuhan mengirimkan nikmat dan rezeki dari arah
yang tidak diduga-duga.
“dimana?sama sapa aja?”,
belum sempat ku jawab pertanyaannya, aku balik bertanya.
“Jendro,
Ikal dan Ifan kita nonton di Café Biasa”, sanggahnya.
Aku baru saja ingat, malam ini laga semi
final Piala Dunia yang mempertemukan Spanyol Vs Jerman. Untung saja teman ku
yang bernama Meiza mengingatkan ku akan momen yang ditunggu-tunggu ratusan juta
umat manusia didunia. Bagaimana tidak!!, Spanyol dan Jerman merupakan tim kuat
favorit juara, dengan gaya ala tiki-taka yang hampir dari setengah pemain
Spanyol merupakan pemain yang dijuluki oleh semua orang didunia pemain dari
Planet. Sebut saja Xavi Hernandez, Gerard Pique, Iniesta, Puyol, David Villa
dan sang penjaga Gawang Iker Casilass.
Sementara
lawannya, Jerman tida kalah kuat, dengan bermaterikan pemain yang banyak
bermain diliga-liga top Eropa macam Piliph Lahm, Mario Gomez, Bastian
Swanchsteiger, Mario Gotze yang digadang-gadang akan menggantikan Franz
Backeunbaeur legenda hidup sepakbola Jerman, belum lagi dibawah mistar terdapat
Manuel Neur, tak salah rupanya pertandingan ini disebut-sebut sebagai
pertandingan terpanas dijagat raya pada tahun ini.
“Yaudah
ikut deh”, aku menyetujui untuk ikut teman-teman nonton
bareng.
“Jam sepuluh kita berangkat”,
jawabnya gaya seorang bos kepada karyawan disusul dengan suara pintu tertutup.
Seperti biasanya Meiza pasti akan
menjemputku dengan motor kebanggaannya, sebuah kuda besi keluaran pabrik motor
Jepang sekitar tahun 2000. Sejujurnya aku beruntung sekali meski aku tidak
memiliki kendaraan, tapi berkat Meiza aku sedikit dimudahkan dalam beberapa
urusan. Setidaknya aku bisa meminjam motornya saat aku membutuhkan, kadang ia
menjemput ku saat akan berangkat kekampus.
Maklum saja, Meiza adalah pribumi asli
kota ini, jadi tidak begitu sulit baginya untuk sekedar bermain ketempat kos
ku. Kadang pula aku diajaknya bermain kerumahnya, namun ada hal yang paling
tidak aku sukai dari hobinya adalah mengoleksi batu cincin, mungkin karena
alasan tersebutlah pacarnya meninggalkannya.
“Terang aja dia ninggalin, ente
lebih sayang sama cincin dari pada sama si dia”,
itulah kalimat yang ku ucapkan kepada Meiza saat dia menceritakan kisahnya saat
di putuskan oleh pacarnya, namanya Mulan.
Kami sering kali berkumpul disebuah Café
yang terletak dipinggiran kota. Cafenya tidak begitu mewah, namun cukup ramai
pengunjung, apalagi saat ‘weekend’,
café ini selalu dipenuhi oleh kalangan muda dan mahasiswa. Karena Café ini
menyuguhkan menu yang relatif terjangkau oleh mahasiswa macam kami. Meski pun
kami kesana hanya minum kopi segelas dan sisanya internetan sampe puas.
Seperti memahami kebutuhan kaum muda
saat ini, pemilik café membuat sebuah program khusus terutama saat musim
sepakbola. Selalu ada kegiatan nonton bareng di café ini, dengan layar yang
cukup besar disudut yang dapat diakses semua pengunjung, membuat kami merasa
nyaman melakukan nonton bareng di café tersebut.
“Dari pada dikamarku, hanya ada
televisi dengan ukuran 14 inch, dengan gambar yang sudah memerah dikarenakan
tabungnya rusak, maklum saja televisi tersebut kudapatkan dengan harga murah. Jadi
wajar aku sudah tahu konsekuensi apa yang aku terima dengan harga murah yang
kuberikan”, keluhku.
Namun nampaknya sosok Fatimah mendapat porsi
yang lebih diingatanku, aku mendengar tentang partai semi-final yang
mempertemukan Jerman Vs Spanyol, seketika nama Fatimah terngiang dikepalaku.
Dengan gaya elang mencari mangsa, aku tak berfikir panjang, segera ku ambil
handphone yang kugeletakkan disebelah buku yang sedang ku baca, “Pendidikan
Kaum Tertindas” karangan Poulo Fereire, seorang pemerhati pendidikan berasal
dari Brazil.
“malem ini Jerman main, mau
taruhan???”, dengan nada yang tergesa-gesa bicara dengan fatimah melalui ponsel
kesayangan ku.
“apaan??memang
apa taruhannya??”, seolah Fatimah tahu maksud ku..
“terserah
saja, apa yang baiknya buat kamu”, sedikit merayu..
“gimana kalo Jerman menang kamu
traktir aku makan Es Krim”, Fatimah seakan menyetujui
tawaranku..
“oke kalau Spanyol menang, kamu
yang traktir aku minum Es Krim??”, sedikit senyum.
“Oke deh. Yaudah kalo gitu”,
dari intonasi suaranya Fatimah ingin segera menyudahi perbincangan kami..
“Oke..
selamat sore”..
Kemudian setelah itu melanjutkan
bacaanku untuk menuntaskan buku milik Poulo Fereire, sembari mendengarkan lagu
milik salah satu Band Legendaris asal Liverpool, yang sampai hari ini masih
dipuja yaitu The Beatles, melalui leptop sahabat ku yang sedang kupinjam untuk
mengerjakan tugas kuliah. Judulnya “Strawberry
Fields Forever”. Lagu ini sampai kini diabadikan oleh penduduk Liverpool
sebagai nama sebuah taman Strawberry dipinggiran kota tersebut.
Liriknya sangat romantis, meski aku
bukan seorang yang fasih bicara bahasa Inggris, namun lagu tersebut mendapat
perhatian khusus bagiku. Pengambilan nada yang ‘easy listening’ dan lirik yang
mudah diterjemahkan, seolah John Lennon mengajak kita untuk membayangkan
bagaimana indahnya memadu kasih disebuah taman Strawberry.
Seperti yang sudah dijanjikan oleh
Meiza, pukul sepuluh malam aku sudah siap-siap menunggu jemputan Meiza.
Sebenarnya aku merupakan sosok pria yang kurang begitu memperhatikan
penampilan, sehingga nampak urak-urakan. Rambutku panjang sampai kebahu, belum
lagi janggut ku yang hampir menutupi wajah, berpakaian ala mahasiswa dengan
t-shirt yang sebenarnya hanya ada tiga pasang diserasikan dengan celana yang
lututnya sudah sobek termakan oleh usia.
Meski kadang teman-teman mengejekku
dengan kalimat jagoan di film kartun, yang pakaian tidak pernah ganti-ganti.
Karena celana ku hanya ada dua potong, dan kemeja hanya satu, jadi semua
pakaian tersebut kumasimalkan dalam setiap minggunya.
“tok..tok..tok..tok”,
bunyi ketukan pintu kamarku.
“cepet udah ditunggu yang lain”,
kali ini Meiza tak sabar menungguku membuka pintu, rupanya pintu kamarku tidak
terkunci jadi dia dapat membukanya langsung.
“oke..oke..yuk
berangkat!!!”, segera aku keluar dan mengunci pintu.
Rupanya Meiza sudah
berada diatas motor dengan mesin yang masih hidup. Dengan raut wajah yang
menandakan ketidak sabaraannya.
“cepet..kick
off jam setengah sebelas”, teriaknya agar aku sedikit lebih cepat.
“ia..ia..sabar bray!!”, aku coba menenangkannya.
Segera aku melahap
separuh jok kosong yang disisakan oleh Meiza dibagian belakang motornya.
Jarak dari kosanku menuju Café tempat kami
nonton bareng, tidak begitu jauh. Sehingga dapat ditempuh dengan waktu kurang
dari 20 menit. Ternyata ini malam minggu, seluruh kaula muda di kota tahu bahwa
tidak baik menghabiskan waktu dikamar atau dirumah. Aku pun tidak tahu sejak
kapan paradigma macam ini menggandrungi pemikiran anak muda di kota-kota besar.
Yang pada akhirnya kami harus sabar bahwa perjalanan kami menuju café tersebut
sedikit memakan waktu yang lama dari biasanya.
Sepanjang perjalanan mataku tidak lepas
dari sisi bahu jalan yang sesak dipenuhi oleh komunitas motor yang ‘masya allah’ banyak sekali, mulai dari
komunitas motor tua-muda, motor bebek motor laki sampai sepeda ada semua
disana. Kadang aku berfikir, apa yang menjadi alasan mereka untuk terlibat
dalam persatuan macam ini.
Justru dengan adanya mereka, masyarakat
merasa dirugikan. Dengan kebisingannya, belum lagi yang ugal-ugalan, bahkan ada
yang konvoi sampai tidak menyisakan sebagian untuk pengendara lain yang juga
sedang melakukan perjalanan.
Namun Meiza tetap saja fokus dengan
perjalanannya, aku tahu apa yang ada difikirannya, yaitu segera sampai di café.
Hal ini sudah kurasakan sejak dari kami berangkat dari kosan tadi, meiza seakan
tidak pernah menurukan jarum yang ada di speedometer motornya dari angka 70.
“Mei..Mei..kok
motornya limbung??”, aku bertanya sambil ketakutan..
“coba lu cek ban belakang!!!”,
“Astaga
Mei ban lu bocor”,
Segera Meiza minggir dari jalanan yang
padat dan mematikan mesinnya. Sejenak kami merasa kebingungan dan masih belum
percaya dengan apa yang terjadi. Aku menengok aroji di lengan kiriku, waktu
sudah menunjukkan pukul 22.48 Waktu setempat, dan merupakan waktu dimana kick off
sudah mulai, sementara kami harus pasrah menerima kenyataan bahwa motor kami
mengalami insiden pecah ban.
“Jadi
gimana ni sekarang??”, tanyaku memecah keheningan.
“Ya..cari
tambal ban, mau gimana lagi”, Meiza segera mendorong
motor.
Kami berdua percaya bahwa masih banyak penjual
jasa tambal ban dipinggiran jalan sepanjang kota ini, hanya kami masih belum
tahu apakah jarak dari tempat kami behenti jauh atau dekat. Namun dengan
semangat tinggi kami terus berusaha agar ban ini dapat kembali pulih, dan kami
dapat melanjutkan perjalanan.
Bray..kita pecah ban..tunggu disana
ya”,
Aku mendengar Meiza berbicara dengan seseorang melalui telfon selulernya.
“Nelfon
siapa Mei??”, tanyaku penasaran.
“Ikal..mereka nungguin kita disana
dari tadi”.
Ikal adalah sahabat kami dikampus.
Namanya sama dengan potongan rambutnya yang sedikit ikal. Memiliki kebiasaan
buruk yaitu senang dengan taruhan bola, kalau kami menyebutnya si penjudi kelas
teri. Sosok yang setia kawan, namun sedikit ‘playboy’,
karena suka gunta-ganti pasangan. Sebenarnya wajahnya tidak begitu tampan,
namun gaya olah lobi yang nilainya sembilan, membuat kami percaya bahwa wanita
mana yang tidak bertekuk lutut jika mendengar kalimat pujangga ikal keluar.
“Bray..udah setengah jam kita jalan,
mana ni tambal bannya??”, aku sudah merasa frustasi.
Nampaknya malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk kami berdua.
“Sabar bray..teori probalitas,
semakin banyak berusaha semakin banyak peluang, jadi gak usaha ya gak ada
peluang”, wah Meiza mengeluarkan teroi yang ia dapat dari
dosen tuanya.
Dilain tempat pertandingan Jerman VS
Spanyol tengah berlangsung, sementara skor masih sama kuat 0-0, sesuai dengan
prediksi kebanyakan orang, kedua kesebelasan akan bertandingan ngotot dan terjadi
jual beli serangan, jadi skor kacamata cukup relevan menggambarkan peta
kekuatan masing-masing.
Dalam posisi ini aku sebenarnya cukup
menyesal, dilain tempat mereka sangat menikmati pertandingan sepakbola,
sementara kami mesti berjibaku dengan motor yang sudah tidak bisa dipakai
karena ban belakangnya bocor.
“Seandainya
tidak berangkat, mungkin saja saat ini, aku tengah menikmati serunya
pertandingan Jerman VS Spanyol dari layar kaca sebesar 14 Inch di kamar kosku”,
gerutu ku menyesal.
Ahh…!!Menyesal tak ada gunanya, lebih
baik berfikir bagaimana menyelesaikan masalah, ketimbang kita terlarut dalam
penyesalan, karena tidak ada manfaatnya sama sekali, ia tidak mampu
menyelesaikan masalah.
Rupanya kami baru tersadar bahwa ada
tambal ban tepat dihadapan kami, setelah sejam lagi kami melakukan perjalanan
panjang dari tadi. Seperti pada umumnya, pria gagah dengan paras wajah
membentuk trapesium, sudah menanti kami tepat dikios sederhana dengan bekas ban
mobil yang bertuliskan “tambal ban”, berwarna putih.
“Lay…masih
bisa nambal kan?”, sergahku..
Karena aku tahu dari wajahnya, dia tidak
bisa menipu, pasti dia orang Batak. Maka aku tidak ragu untuk memanggilnya
dengan kata Lay (sebuah sapaan akrab suku Batak). Aku pun terkadang sampai kini
masih heran, mengapa orang-orang batak diidentikkan dengan tambal ban?. Padahal
banyak juga orang batak yang sukses dari jalan lain seperti; pengacara, polisi,
pejabat dan lain sebagainya.
Namun satu hal yang aku pelajari dari
orang Batak adalah, kegigihan dalam menghadapi hidup. Mereka tidak sungkan
untuk melakukan pekerjaan apapun demi hidup yang lebih layak. Keberanian dan
kegagahan nya mestinya menjadi tauladan bagi orang lain, dimana banyak sekali
ditengah-tengah kita yang memasrahkan dirinya dengan nasib. Karena rezeki itu
datang dari setiap usaha-usaha yang kita lakukan.
Sebagaimana Tuhan, tidak pernah
mengharap manusia untuk terus-terus berhasil, namun Tuhan selalu menghimbau
manusia agar terus berusaha dan berdo’a kepada-Nya.
“Berapa lubang Lay??”,
tanya Meiza kepada penambal ban, yang tengah bersusah payah mengerjakan
tugasnya menambal ban.
“dua!!!”,
“Kira-kira
lama ya Lay??”, aku mencoba menengahi pembicaraan
mereka.
Yah kurang lebih sejam!!”.
Aku dan Meiza serempak memandang satu
sama lain, seolah kami saling mengetahui apa yang ada dalam fikiran kami
berdua.
Ya..dan itu artinya malam ini kami batal
untuk menyaksikan pertandingan sepakbola di tempat yang sudah kami sepakati
bersama. Dengan begitu, malam ini kami habiskan di tambal ban milik Lay, dan
hanya menyaksikan bagaimana sibuknya tukang tambal ban ini, membedah ban motor
milik Meiza.
“coba
lu tanya anak-anak udah berapa skornya”, pintaku kepada Meiza..
Dengan kesigapan ala tentaranya, Meiza
segera menelfon salah satu temanku yang tengah asyik menyaksikan laga
semi-final Jerman VS Spanyol di Café langganan kami.
“Halo..Kal..Maaf kayakanya kita gak
bisa kesana, nambal bannya lama”, Meiza membuka
pembicaraan dengan meminta maaf.
Skornya
udah berapa??”,
Ohh..oke…yasudah
makasih”..
Sekarang menit 83, skor masih 0-0”,
mencoba menjelaskan hasil pembicaraannya kepada ku. Karena aku tidak mendengar
apa yang dikatakan oleh lawan telfon Meiza barusan.
Pasti pertandingannya berjalan dengan
sengit, aku mencoba mencari jawaban sendiri atas apa yang tidak aku saksikan.
Mungkin saja ini akan berakhir dengan
perpanjangan waktu dan adu gawang oleh kedua tim. Jika sampai terjadi adu
gawang, terang saja aku menjagokan Spanyol, karena memiliki beberapa pemain
dengan akurasi tendangan yang cukup baik, dan Iker Cassilas yang merupakan
penjaga gawang terbaik dunia, dengan ketenangan mengantisipasi tendangan. “Aku
mencoba memprediksi layaknya komentator sepakbola di Televisi macam M. Kusnaeni
atau Bung Tommy Welly”.
Sekitar kurang dari sejam kami
bercengkrama di tambal ban, akhirnya si penambal ban, telah merampungkan
pekerjaannya..
“Oke..sudah..”,
si Lay mengisyaratkan kesuksesannya dalam menambal ban.
“Berapa Lay??”,
tanya Meiza utuk memastikan besaran ongkos yang harus kami bayar.
“10.000!!!”,
Tanpa bicara Meiza segera memasukkan
tangan kanannya kesaku celanan sebelah kanan, dan langsung memberikan kepada
Lay.
“Makasih Lay!!!”,
sembari melempar senyuman, tanda pembayaran dari ku, aku tidak berkontribusi aktif dalam proses
tambal-menambal ini. Jadi yang bisa kubayarkan adalah senyuman indah tanda
perpisahan kami dengan si Lay tadi.
“Gw balik aja Mei, udah jam
setengah satu lebih”, pintaku kepada sang sopir yang sekaligus sahabat ku.
Bergegas Mei mengarahkan kendaraannya
menuju tempat tinggal ku yang seukuran 3x4 Meter, dan kusewa selama satu tahun
dengan uang sebesar 2,7 Juta Rupiah. Pemilik kosan ku adalah seorang ibu tua,
yang kira-kira usianya sekira 50 tahunan. Dia begitu ramah kepada semua
penghuni kosan, kami biasa memanggilnya ‘Uni’, aku pun sebenarnya tidak tahu
asal muasal mengapa ia suka dipanggil demikian. Mungkin saja jiwanya yang masih
muda meski jika melihat wajahnya lebih cocok dipanggil nenek, atau bisa jadi
karena darahnya mengalir ras minang yang berasal dari ayah dan ibunya. Jadi
wajar saja dia sangat suka dipanggil ‘uni’ (sebutan kakak perempuan dalam
tradisi masyarakat Minang).
Setelah hampir 20 menit kami berjalan,
motor yang kami naiki, tiba-tiba berhenti tepat didepan halaman sebuah bangunan
berderet, yang lebih menyerupai susunan kamar yang menyamping, itu adalah
kosanku.
“udah sampe!!!”, ujar
Mei seolah dia memerankan supir taksi yang mengisyaratakan perjalanannya telah
usai kepada penumpang.
“Mampir
dulu gak??”,
“Makasih
deh, langsung aja”,
“Yasudah..hati-hati”,
“Sip…Gw pulang ya..”,
Seraya melambaikan tangan untuk sebuah perpisahan kecil dimalam yang panjang
bagi kami berdua..
Setelah mengamati perpisahan itu, aku
memutar balikkan tubuh, dan lekas berjalan menuju kamar.
Entah apa yang ada dalam benakku, arloji
ku sudah menunjukkan pukul 01.23 Wib, namun ada yang mendorong keinginannku
untuk menekan tombol bergambar telfon di ponsel 3310 berwarna biru tua dari
saku celana.
“Halooo..”,
suaranya begitu merdu, nan indah namun tetap tegar meski ini sudah dini hari..
“Kok
belum tidur??”,
“Belum..baru
aja selesai nonton bola”,
Astaga, wanita ini kan penggila bola,
tak salah jika ia rela tidak tidur untuk menyaksikan pertandingan sepakbola,
apa lagi yang main adalah tim favoritnya. ‘Aku coba memahami situasi’.
“Memang
kamu gak nonton??”, dia berusaha mengendalikan pembicaraan.
Fatimah ternyata sudah lebih merasa
nyaman berkomunikasi dengan ku, setelah seminggu lebih kami berkomunikasi via
telfon. Aku berusaha menceritakan apa yang aku alami tadi kepada Fatimah. Ia
terlihat senang sekali mendengarnya, padahal hatiku sangat kesal sekali apabila
mengingat peristiwa tersebut.
“Kamu
menang!!!”,
tiba-tiba Fatimah berkata dengan nada
sedih, atas kekalahannya dalam taruhan dengan ku..
Seolah mendapatkan energy tambahan, tiba-tiba rasa kesal dan lelah setelah hampir dua
jam kami berjalan dengan sepeda motor yang hanya bisa didorong, tiba-tiba
lenyap seketika.
Namun aku tetap berusaha elegan saat
sedang berbicara dengannya..
“Ohh..memang
siapa yang cetak gol?”, dengan nada yang ‘sok’ bijaksana
aku bertanya.
“Puyol..menit
89, padahal dari babak pertama, Jerman menguasai pertandingan”,
nadanya menyesali kekalahan Jerman.
“Yah..begitu
lah sepakbola, sebelum wasit meniup peluit panjang babak kedua, kita tidak
pernah tahu siapa yang akan keluar sebagai pemenang”,
aku menerangkan seolah paham dengan permainan sepakbola.
Aku memang bukan seorang pemuda yang
cukup lihai dalam mengolah kulit bundar, namun sejak kecil aku sangat suka
membaca Koran atau majalah sepakbola, dan sejak saat itu meski uang jajan ku
tidak lah terlalu besar, aku selalu sisih kan uang jajan hanya untuk membeli
majalah bola, kebetulan dikampungku dekat dengan pasar, dan setiap Jum’at siang
kusempatkan kepasar membeli majalah bola mingguan diloper koran.
Oleh sebab itu, sedikit banyak aku lebih
paham tentang perkembangan sepakbola, dibandingkan menguasai rumus matematika
dan pelajaran-pelajaran disekolah lainnya.
Hampir sejam kami berbincang-bincang,
aku mulai merasa bahwa Fatimah sudah mulai mengantuk. Sebelum kami akhiri
pembicaraan tersebut, Fatimah akhirnya mengajak aku bertemu pada sebuah
restoran yang menjual Es Krim, sebagai bentuk pembayaran hutang atas
kekalahannya malam ini. Aku sedikit gugup, karena sama sekali aku belum pernah datang
ketempat yang dijanjikan oleh Fatimah. Rasa minder, dan malu menghinggapi
setelah aku mendengar ajakan Fatimah tersebut.
Sungguh benar-benar malam yang panjang
untukku, Meiza dan Fatimah. Diawali dengan cobaan betus ban, dan di akhiri
dengan kalimat manis Fatimah. “Besok
jemput aku ya, aku mau traktir kamu Es Krim”, sepenggal kalimat Fatimah
sebelum menuntaskan obrolan kami berdua ditelfon tadi.
“Tuhan Maha Benar, dibalik kesulitan
pasti ada kemudahan”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar