Wikipedia

Hasil penelusuran

Selasa, 28 Januari 2014

Sepak bola persahabatan

“Ia..Maaf  Siapa ini??”, Aku membaca sebuah SMS balasan di HP ku..
“Maaf aku mengganggu aku Purnama temannya Ismayatun”, segera aku membalas SMS dari Fatimah.
Seorang wanita yang belum aku ketahui parasnya, apalagi perangainya. Namun karena ini salah satu saran yang dianjurkan sahabatku Ismayatun, maka aku lakukan saja. Disamping itu, aku pun sadar bahwa dengan peristiwa yang aku alami kemarin-kemarin, jujur saja aku membutuhkan teman lain untuk saling berbagi.
Setelah dua hari aku bertemu Ismayatun, aku mencoba mengikuti sarannya, untuk menghubungi sahabatnya yang bernama Fatimah. Sebenarnya, aku ingin sekali menelfon Fatimah, namun aku sadar ada beberapa alasan yang mengurungkan niatku, yang pertama kami belum saling kenal, aku khawatir nanti tanggapan Fatimah datar-datar saja, kedua aku pun cukup sadar biaya untuk menelfon cukuplah menguras kocek, apalagi aku seorang mahasiswa yang bisa di bilang ongkosnya pas-pasan..

Maklum mahasiswa rantau, “pacar gak punya hutang dimana-mana!!!”,sambil mengingat lirik sebuah lagu.
Jadi pilihan bijaknya adalah melakukan pendekatan melalui SMS, selain terjangkau, provider selulerku pun banyak gratis SMS nya, ‘menyedihkan’. Proses pendekatan awalnya adalah dengan mengirimkan SMS yang bunyinya..
“Ini Fatimah ya?”, tanyaku..
Terang saja itu Fatimah!!! tidak mungkin Ismayatun membohongiku dengan memberi nomor yang salah. Namun sebagai langkah basa-basi yang cukup kuno, rupanya cara ini cukup berhasil.
Setalah dua hari komunikasi antara kami, melalui SMS akhirnya kuberanikan untuk menelfon Fatimah. Seperti yang sudah ku bayangkan sebelumnya, Fatimah hanya berbicara dengan intonasi yang datar, terkesan cuek dan angkuh.
Ahhh!!!..Aku kan baru kenal dengan nya, apa lagi dia seorang wanita, tidak mungkin dia langsung berani mengakrabkan diri dengan orang yang baru dikenalnya apalagi belum jelas bibit bebet nya, aku berfikir positif dengan apa yang ku terima.
Setidaknya, setelah telfon ku matikan aku sedikit banyak tahu siapa Fatimah. Mengingat apa yang disarankan oleh Ismayatun, Fatimah adalah sahabatnya dikampus. Fatimah merupakan teman satu jurusan Ismayatun, mereka kenal akrab satu sama lain.
Apakah sama halnya dengan Ismayatun mengenal siapa aku??, Nalar ku bertanya.

Fatimah adalah sosok wanita yang hobi menonton sepakbola, karena dia menceritakan soal perkembangan Piala Dunia, yang kebetulan tadi malam Jerman baru saja memenangkan perempat final Piala Dunia melawan kesebelasana Argentina dengan Skor Empat-Satu untuk Jerman.
Dan anehnya, Argentina adalah tim idola ku sejak aku duduk dibangku sekolah dasar. Karena sejak kelas empat aku selalu disuguhkan pembicaraan tentang Gabriel Omar Batistuta, oleh pamanku. Pamanku selalu dengan semangat yang berapi-api saat dia mulai membicarakan Superiortas Batistuta, apa lagi saat dia berhasil mencetak gol dalam sebuah pertandingan.
Seolah terhipnotis pamanku, sejak saat itu pula aku menahbiskan diri sebagai pengidola baru, seorang anak kecil yang tidak paham Sepakbola namun begitu mengidolakan Batistuta. Seiring dengan itu pula, aku mulai suka menonton pertandingan sepakbola dilayar kaca, dan bisa dibilang aku hanya penggemar pemain, bukan tim sepakbolanya. Jadi dimanapun Batistuta bermain disitulah aku turut menyukai tim yang dibelanya.
Sementara itu, Fatimah sangat mengidolakan Timnas Jerman!!, meski dia tidak mengutarakan langsung namun dengan nada bangga saat menceritakan kemenangan Jerman, aku tahu dia memfavoritkan Jerman di Piala Dunia yang di gelar di Afrika Selatan tersebut.
Sejak saat itu pula, tanpa kami sadari, awal hubungan kami bermula saat kami membicarakan tentang sepakbola.
“Jadi apa alasan kamu memfavoritkan Jerman??”, aku bertanya disela-sela pembicaraan saat menelfonnya.
“Pemainnya tampan-tampan dan jersey nya bagus!!”,
Dasar wanita zaman sekarang, semua selalu dilihat dari apa yang nampak!!, fikirku dengan miris.
Sudah hampir  seminggu kami berkomunikasi via telfon, tak sedikitpun pembicaraan kami yang mengarah untuk bertemu. Aku merasa kami saling menahan diri satu sama lain. Dengan sedikit menyimpulkan, fatimah sebenarnya membuat aku nyaman untuk beberapa saat. Meski komunikasi kami hanya sebatas melalui media telefon, namun rasanya kami sudah saling mengenal.
Disisi lain, aku sangat pesimis dengan keangkuhan yang ditunjukan Fatimah. Maklum saja gaya anak Kota rasanya cukup melegitimasi sikapnya kepada orang yang baru di kenal apa lagi masih tidak jelas siapa orangnya.
Hampir sepanjang malam kami telfonan, dan menyedihkannya selalu saja aku yang memulai untuk membuka komunikasi diantara kami berdua.
“Wanita kadang makhluk yang paling naif didunia”, gerutuku dalam hati.
“Kartini selalu mengelu-elu kan kesetaraan gender, posisi wanita dan pria mesti sama. Tetapi kenapa dalam dunia macam ini selalu wanita berharap diistimewakan”, keluh ku dalam hari.
 “tok..tok..tok”, suara ketukan dari pintu kamar kos ku.
Aku cukup terkejut, siapa gerangan yang mengetuk pintu kamarku, karena baru saja aku pulang dari kampus pukul 16. 47 waktu kosan ku. Sebenarnya aku bermaksud istirahat sembari memuaskan hobi ku dalam membaca, tiba-tiba ada yang menggangu.
Dengan gaya malas aku beranjak dari kursi dalam kamar kos ku untuk membuka pintu.
“malem ini mau ikut nonton bareng gak?”,
Tanya seorang pria dengan tinggi badan sekitar 172 cm dan rambut menyerupai aktor laga kawakan Andy Lau.
Namanya Meiza lelaki yang banyak disukai oleh kaum hawa karena ketampanannya ini, merupakan orang pertama yang aku kenal saat pertama kali aku menjadi mahasiswa baru. Kebetulan kami diperkenalan oleh sahabat ku dari kampung, namun ia sejak Sekolah Menengah Atas (SMA) sudah berdomisili di kota, yaitu Alen yang merupakan kekasih Meiza. Kami bertemu disebuah rumah makan ketika kami makan siang, saat tengah melakukan pembayaran administrasi sebagai mahasiswa baru. Namun ternyata aku dan Meiza ditakdirkan lain, kami berada di fakultas yang sama. Meski kami berlainan jurusan, namun karena sejak awal kami saling kenal, hubungan itu berlanjut setiap hari di kampus dan bahkan kami bermain bersama diluar kampus.
Tuhan begitu adil, Ia selalu membuat sebuah rekayasa yang tidak pernah diduga oleh Makhluk-Nya. Tuhan Maha Tahu apa yang di butuhkan oleh Makhluk-Nya, saat aku butuh teman, dengan berbagai macam usaha yang kulakukan, ternyata Tuhan mengirimkan nikmat dan rezeki dari arah yang tidak diduga-duga.
“dimana?sama sapa aja?”, belum sempat ku jawab pertanyaannya, aku balik bertanya.
“Jendro, Ikal dan Ifan kita nonton di Café Biasa”, sanggahnya.
Aku baru saja ingat, malam ini laga semi final Piala Dunia yang mempertemukan Spanyol Vs Jerman. Untung saja teman ku yang bernama Meiza mengingatkan ku akan momen yang ditunggu-tunggu ratusan juta umat manusia didunia. Bagaimana tidak!!, Spanyol dan Jerman merupakan tim kuat favorit juara, dengan gaya ala tiki-taka yang hampir dari setengah pemain Spanyol merupakan pemain yang dijuluki oleh semua orang didunia pemain dari Planet. Sebut saja Xavi Hernandez, Gerard Pique, Iniesta, Puyol, David Villa dan sang penjaga Gawang Iker Casilass.
Sementara lawannya, Jerman tida kalah kuat, dengan bermaterikan pemain yang banyak bermain diliga-liga top Eropa macam Piliph Lahm, Mario Gomez, Bastian Swanchsteiger, Mario Gotze yang digadang-gadang akan menggantikan Franz Backeunbaeur legenda hidup sepakbola Jerman, belum lagi dibawah mistar terdapat Manuel Neur, tak salah rupanya pertandingan ini disebut-sebut sebagai pertandingan terpanas dijagat raya pada tahun ini.
“Yaudah ikut deh”, aku menyetujui untuk ikut teman-teman nonton bareng.
“Jam sepuluh kita berangkat”, jawabnya gaya seorang bos kepada karyawan disusul dengan suara pintu tertutup.
Seperti biasanya Meiza pasti akan menjemputku dengan motor kebanggaannya, sebuah kuda besi keluaran pabrik motor Jepang sekitar tahun 2000. Sejujurnya aku beruntung sekali meski aku tidak memiliki kendaraan, tapi berkat Meiza aku sedikit dimudahkan dalam beberapa urusan. Setidaknya aku bisa meminjam motornya saat aku membutuhkan, kadang ia menjemput ku saat akan berangkat kekampus.
Maklum saja, Meiza adalah pribumi asli kota ini, jadi tidak begitu sulit baginya untuk sekedar bermain ketempat kos ku. Kadang pula aku diajaknya bermain kerumahnya, namun ada hal yang paling tidak aku sukai dari hobinya adalah mengoleksi batu cincin, mungkin karena alasan tersebutlah pacarnya meninggalkannya.
“Terang aja dia ninggalin, ente lebih sayang sama cincin dari pada sama si dia”, itulah kalimat yang ku ucapkan kepada Meiza saat dia menceritakan kisahnya saat di putuskan oleh pacarnya, namanya Mulan.
Kami sering kali berkumpul disebuah Café yang terletak dipinggiran kota. Cafenya tidak begitu mewah, namun cukup ramai pengunjung, apalagi saat ‘weekend’, café ini selalu dipenuhi oleh kalangan muda dan mahasiswa. Karena Café ini menyuguhkan menu yang relatif terjangkau oleh mahasiswa macam kami. Meski pun kami kesana hanya minum kopi segelas dan sisanya internetan sampe puas.
Seperti memahami kebutuhan kaum muda saat ini, pemilik café membuat sebuah program khusus terutama saat musim sepakbola. Selalu ada kegiatan nonton bareng di café ini, dengan layar yang cukup besar disudut yang dapat diakses semua pengunjung, membuat kami merasa nyaman melakukan nonton bareng di café tersebut.
“Dari pada dikamarku, hanya ada televisi dengan ukuran 14 inch, dengan gambar yang sudah memerah dikarenakan tabungnya rusak, maklum saja televisi tersebut kudapatkan dengan harga murah. Jadi wajar aku sudah tahu konsekuensi apa yang aku terima dengan harga murah yang kuberikan”, keluhku.
Namun nampaknya sosok Fatimah mendapat porsi yang lebih diingatanku, aku mendengar tentang partai semi-final yang mempertemukan Jerman Vs Spanyol, seketika nama Fatimah terngiang dikepalaku. Dengan gaya elang mencari mangsa, aku tak berfikir panjang, segera ku ambil handphone yang kugeletakkan disebelah buku yang sedang ku baca, “Pendidikan Kaum Tertindas” karangan Poulo Fereire, seorang pemerhati pendidikan berasal dari Brazil.
“malem ini Jerman main, mau taruhan???”, dengan nada yang tergesa-gesa  bicara dengan fatimah melalui ponsel kesayangan ku.
“apaan??memang apa taruhannya??”, seolah Fatimah tahu maksud ku..
“terserah saja, apa yang baiknya buat kamu”, sedikit merayu..
“gimana kalo Jerman menang kamu traktir aku makan Es Krim”, Fatimah seakan menyetujui tawaranku..
“oke kalau Spanyol menang, kamu yang traktir aku minum Es Krim??”,  sedikit senyum.
“Oke deh. Yaudah kalo gitu”, dari intonasi suaranya Fatimah ingin segera menyudahi perbincangan kami..
“Oke.. selamat sore”..
Kemudian setelah itu melanjutkan bacaanku untuk menuntaskan buku milik Poulo Fereire, sembari mendengarkan lagu milik salah satu Band Legendaris asal Liverpool, yang sampai hari ini masih dipuja yaitu The Beatles, melalui leptop sahabat ku yang sedang kupinjam untuk mengerjakan tugas kuliah. Judulnya “Strawberry Fields Forever”. Lagu ini sampai kini diabadikan oleh penduduk Liverpool sebagai nama sebuah taman Strawberry dipinggiran kota tersebut.
Liriknya sangat romantis, meski aku bukan seorang yang fasih bicara bahasa Inggris, namun lagu tersebut mendapat perhatian khusus bagiku. Pengambilan nada yang ‘easy listening’ dan lirik yang mudah diterjemahkan, seolah John Lennon mengajak kita untuk membayangkan bagaimana indahnya memadu kasih disebuah taman Strawberry.
Seperti yang sudah dijanjikan oleh Meiza, pukul sepuluh malam aku sudah siap-siap menunggu jemputan Meiza. Sebenarnya aku merupakan sosok pria yang kurang begitu memperhatikan penampilan, sehingga nampak urak-urakan. Rambutku panjang sampai kebahu, belum lagi janggut ku yang hampir menutupi wajah, berpakaian ala mahasiswa dengan t-shirt yang sebenarnya hanya ada tiga pasang diserasikan dengan celana yang lututnya sudah sobek termakan oleh usia.
Meski kadang teman-teman mengejekku dengan kalimat jagoan di film kartun, yang pakaian tidak pernah ganti-ganti. Karena celana ku hanya ada dua potong, dan kemeja hanya satu, jadi semua pakaian tersebut kumasimalkan dalam setiap minggunya.
“tok..tok..tok..tok”, bunyi ketukan pintu kamarku.
“cepet udah ditunggu yang lain”, kali ini Meiza tak sabar menungguku membuka pintu, rupanya pintu kamarku tidak terkunci jadi dia dapat membukanya langsung.
“oke..oke..yuk berangkat!!!”, segera aku keluar dan mengunci pintu.
Rupanya Meiza sudah berada diatas motor dengan mesin yang masih hidup. Dengan raut wajah yang menandakan ketidak sabaraannya.
                cepet..kick off jam setengah sebelas”, teriaknya agar aku sedikit lebih cepat.
              “ia..ia..sabar bray!!”, aku coba menenangkannya. 
Segera aku melahap separuh jok kosong yang disisakan oleh Meiza dibagian belakang motornya. 
Jarak dari kosanku menuju Café tempat kami nonton bareng, tidak begitu jauh. Sehingga dapat ditempuh dengan waktu kurang dari 20 menit. Ternyata ini malam minggu, seluruh kaula muda di kota tahu bahwa tidak baik menghabiskan waktu dikamar atau dirumah. Aku pun tidak tahu sejak kapan paradigma macam ini menggandrungi pemikiran anak muda di kota-kota besar. Yang pada akhirnya kami harus sabar bahwa perjalanan kami menuju café tersebut sedikit memakan waktu yang lama dari biasanya.
Sepanjang perjalanan mataku tidak lepas dari sisi bahu jalan yang sesak dipenuhi oleh komunitas motor yang ‘masya allah’ banyak sekali, mulai dari komunitas motor tua-muda, motor bebek motor laki sampai sepeda ada semua disana. Kadang aku berfikir, apa yang menjadi alasan mereka untuk terlibat dalam persatuan macam ini.
Justru dengan adanya mereka, masyarakat merasa dirugikan. Dengan kebisingannya, belum lagi yang ugal-ugalan, bahkan ada yang konvoi sampai tidak menyisakan sebagian untuk pengendara lain yang juga sedang melakukan perjalanan.
Namun Meiza tetap saja fokus dengan perjalanannya, aku tahu apa yang ada difikirannya, yaitu segera sampai di café. Hal ini sudah kurasakan sejak dari kami berangkat dari kosan tadi, meiza seakan tidak pernah menurukan jarum yang ada di speedometer motornya dari angka 70.
“Mei..Mei..kok motornya limbung??”, aku bertanya sambil ketakutan..
“coba lu cek ban belakang!!!”,
“Astaga Mei ban lu bocor”,
Segera Meiza minggir dari jalanan yang padat dan mematikan mesinnya. Sejenak kami merasa kebingungan dan masih belum percaya dengan apa yang terjadi. Aku menengok aroji di lengan kiriku, waktu sudah menunjukkan pukul 22.48 Waktu setempat, dan merupakan waktu dimana kick off sudah mulai, sementara kami harus pasrah menerima kenyataan bahwa motor kami mengalami insiden pecah ban.
“Jadi gimana ni sekarang??”, tanyaku memecah keheningan.
“Ya..cari tambal ban, mau gimana lagi”, Meiza segera mendorong motor.
Kami berdua percaya bahwa masih banyak penjual jasa tambal ban dipinggiran jalan sepanjang kota ini, hanya kami masih belum tahu apakah jarak dari tempat kami behenti jauh atau dekat. Namun dengan semangat tinggi kami terus berusaha agar ban ini dapat kembali pulih, dan kami dapat melanjutkan perjalanan.
Bray..kita pecah ban..tunggu disana ya”, Aku mendengar Meiza berbicara dengan seseorang melalui telfon selulernya.
“Nelfon siapa Mei??”, tanyaku penasaran.
“Ikal..mereka nungguin kita disana dari tadi”.
Ikal adalah sahabat kami dikampus. Namanya sama dengan potongan rambutnya yang sedikit ikal. Memiliki kebiasaan buruk yaitu senang dengan taruhan bola, kalau kami menyebutnya si penjudi kelas teri. Sosok yang setia kawan, namun sedikit ‘playboy’, karena suka gunta-ganti pasangan. Sebenarnya wajahnya tidak begitu tampan, namun gaya olah lobi yang nilainya sembilan, membuat kami percaya bahwa wanita mana yang tidak bertekuk lutut jika mendengar kalimat pujangga ikal keluar.
“Bray..udah setengah jam kita jalan, mana ni tambal bannya??”, aku sudah merasa frustasi. Nampaknya malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk kami berdua.
“Sabar bray..teori probalitas, semakin banyak berusaha semakin banyak peluang, jadi gak usaha ya gak ada peluang”, wah Meiza mengeluarkan teroi yang ia dapat dari dosen tuanya.
Dilain tempat pertandingan Jerman VS Spanyol tengah berlangsung, sementara skor masih sama kuat 0-0, sesuai dengan prediksi kebanyakan orang, kedua kesebelasan akan bertandingan ngotot dan terjadi jual beli serangan, jadi skor kacamata cukup relevan menggambarkan peta kekuatan masing-masing.
Dalam posisi ini aku sebenarnya cukup menyesal, dilain tempat mereka sangat menikmati pertandingan sepakbola, sementara kami mesti berjibaku dengan motor yang sudah tidak bisa dipakai karena ban belakangnya bocor.
“Seandainya tidak berangkat, mungkin saja saat ini, aku tengah menikmati serunya pertandingan Jerman VS Spanyol dari layar kaca sebesar 14 Inch di kamar kosku”, gerutu ku menyesal.
Ahh…!!Menyesal tak ada gunanya, lebih baik berfikir bagaimana menyelesaikan masalah, ketimbang kita terlarut dalam penyesalan, karena tidak ada manfaatnya sama sekali, ia tidak mampu menyelesaikan masalah.
Rupanya kami baru tersadar bahwa ada tambal ban tepat dihadapan kami, setelah sejam lagi kami melakukan perjalanan panjang dari tadi. Seperti pada umumnya, pria gagah dengan paras wajah membentuk trapesium, sudah menanti kami tepat dikios sederhana dengan bekas ban mobil yang bertuliskan “tambal ban”, berwarna putih.
“Lay…masih bisa nambal kan?”, sergahku..
Karena aku tahu dari wajahnya, dia tidak bisa menipu, pasti dia orang Batak. Maka aku tidak ragu untuk memanggilnya dengan kata Lay (sebuah sapaan akrab suku Batak). Aku pun terkadang sampai kini masih heran, mengapa orang-orang batak diidentikkan dengan tambal ban?. Padahal banyak juga orang batak yang sukses dari jalan lain seperti; pengacara, polisi, pejabat dan lain sebagainya.
Namun satu hal yang aku pelajari dari orang Batak adalah, kegigihan dalam menghadapi hidup. Mereka tidak sungkan untuk melakukan pekerjaan apapun demi hidup yang lebih layak. Keberanian dan kegagahan nya mestinya menjadi tauladan bagi orang lain, dimana banyak sekali ditengah-tengah kita yang memasrahkan dirinya dengan nasib. Karena rezeki itu datang dari setiap usaha-usaha yang kita lakukan.
Sebagaimana Tuhan, tidak pernah mengharap manusia untuk terus-terus berhasil, namun Tuhan selalu menghimbau manusia agar terus berusaha dan berdo’a kepada-Nya.
“Berapa lubang Lay??”, tanya Meiza kepada penambal ban, yang tengah bersusah payah mengerjakan tugasnya menambal ban.
“dua!!!”,
“Kira-kira lama ya Lay??”, aku mencoba menengahi pembicaraan mereka.
Yah kurang lebih sejam!!”.
Aku dan Meiza serempak memandang satu sama lain, seolah kami saling mengetahui apa yang ada dalam fikiran kami berdua.
Ya..dan itu artinya malam ini kami batal untuk menyaksikan pertandingan sepakbola di tempat yang sudah kami sepakati bersama. Dengan begitu, malam ini kami habiskan di tambal ban milik Lay, dan hanya menyaksikan bagaimana sibuknya tukang tambal ban ini, membedah ban motor milik Meiza.
“coba lu tanya anak-anak udah berapa skornya”, pintaku kepada Meiza..
Dengan kesigapan ala tentaranya, Meiza segera menelfon salah satu temanku yang tengah asyik menyaksikan laga semi-final Jerman VS Spanyol di Café langganan kami.
“Halo..Kal..Maaf kayakanya kita gak bisa kesana, nambal bannya lama”, Meiza membuka pembicaraan dengan meminta maaf.
Skornya udah berapa??”,
Ohh..oke…yasudah makasih”..
Sekarang menit 83, skor masih 0-0”, mencoba menjelaskan hasil pembicaraannya kepada ku. Karena aku tidak mendengar apa yang dikatakan oleh lawan telfon Meiza barusan.
Pasti pertandingannya berjalan dengan sengit, aku mencoba mencari jawaban sendiri atas apa yang tidak aku saksikan.
Mungkin saja ini akan berakhir dengan perpanjangan waktu dan adu gawang oleh kedua tim. Jika sampai terjadi adu gawang, terang saja aku menjagokan Spanyol, karena memiliki beberapa pemain dengan akurasi tendangan yang cukup baik, dan Iker Cassilas yang merupakan penjaga gawang terbaik dunia, dengan ketenangan mengantisipasi tendangan. “Aku mencoba memprediksi layaknya komentator sepakbola di Televisi macam M. Kusnaeni atau Bung Tommy Welly”.
Sekitar kurang dari sejam kami bercengkrama di tambal ban, akhirnya si penambal ban, telah merampungkan pekerjaannya..
“Oke..sudah..”, si Lay mengisyaratkan kesuksesannya dalam menambal ban.
“Berapa Lay??”, tanya Meiza utuk memastikan besaran ongkos yang harus kami bayar.
“10.000!!!”,
Tanpa bicara Meiza segera memasukkan tangan kanannya kesaku celanan sebelah kanan, dan langsung memberikan kepada Lay.
“Makasih Lay!!!”, sembari melempar senyuman, tanda pembayaran dari ku,  aku tidak berkontribusi aktif dalam proses tambal-menambal ini. Jadi yang bisa kubayarkan adalah senyuman indah tanda perpisahan kami dengan si Lay tadi.
“Gw balik aja Mei, udah jam setengah satu lebih”, pintaku kepada sang sopir  yang sekaligus sahabat ku.
Bergegas Mei mengarahkan kendaraannya menuju tempat tinggal ku yang seukuran 3x4 Meter, dan kusewa selama satu tahun dengan uang sebesar 2,7 Juta Rupiah. Pemilik kosan ku adalah seorang ibu tua, yang kira-kira usianya sekira 50 tahunan. Dia begitu ramah kepada semua penghuni kosan, kami biasa memanggilnya ‘Uni’, aku pun sebenarnya tidak tahu asal muasal mengapa ia suka dipanggil demikian. Mungkin saja jiwanya yang masih muda meski jika melihat wajahnya lebih cocok dipanggil nenek, atau bisa jadi karena darahnya mengalir ras minang yang berasal dari ayah dan ibunya. Jadi wajar saja dia sangat suka dipanggil ‘uni’ (sebutan kakak perempuan dalam tradisi masyarakat Minang).
Setelah hampir 20 menit kami berjalan, motor yang kami naiki, tiba-tiba berhenti tepat didepan halaman sebuah bangunan berderet, yang lebih menyerupai susunan kamar yang menyamping, itu adalah kosanku.
“udah sampe!!!”, ujar Mei seolah dia memerankan supir taksi yang mengisyaratakan perjalanannya telah usai kepada penumpang.
“Mampir dulu gak??”,
“Makasih deh, langsung aja”,
“Yasudah..hati-hati”,
“Sip…Gw pulang ya..”, Seraya melambaikan tangan untuk sebuah perpisahan kecil dimalam yang panjang bagi kami berdua..
Setelah mengamati perpisahan itu, aku memutar balikkan tubuh, dan lekas berjalan menuju kamar.
Entah apa yang ada dalam benakku, arloji ku sudah menunjukkan pukul 01.23 Wib, namun ada yang mendorong keinginannku untuk menekan tombol bergambar telfon di ponsel 3310 berwarna biru tua dari saku celana.
“Halooo..”, suaranya begitu merdu, nan indah namun tetap tegar meski  ini sudah dini hari..
“Kok belum tidur??”,
“Belum..baru aja selesai nonton bola”,
Astaga, wanita ini kan penggila bola, tak salah jika ia rela tidak tidur untuk menyaksikan pertandingan sepakbola, apa lagi yang main adalah tim favoritnya. ‘Aku coba memahami situasi’.
“Memang kamu gak nonton??”, dia berusaha mengendalikan pembicaraan.
Fatimah ternyata sudah lebih merasa nyaman berkomunikasi dengan ku, setelah seminggu lebih kami berkomunikasi via telfon. Aku berusaha menceritakan apa yang aku alami tadi kepada Fatimah. Ia terlihat senang sekali mendengarnya, padahal hatiku sangat kesal sekali apabila mengingat peristiwa tersebut.
“Kamu menang!!!”,
tiba-tiba Fatimah berkata dengan nada sedih, atas kekalahannya dalam taruhan dengan ku..
Seolah mendapatkan energy tambahan, tiba-tiba rasa kesal dan lelah setelah hampir dua jam kami berjalan dengan sepeda motor yang hanya bisa didorong, tiba-tiba lenyap seketika.
Namun aku tetap berusaha elegan saat sedang berbicara dengannya..
“Ohh..memang siapa yang cetak gol?”, dengan nada yang ‘sok’ bijaksana aku bertanya.
“Puyol..menit 89, padahal dari babak pertama, Jerman menguasai pertandingan”, nadanya menyesali kekalahan Jerman.
“Yah..begitu lah sepakbola, sebelum wasit meniup peluit panjang babak kedua, kita tidak pernah tahu siapa yang akan keluar sebagai pemenang”, aku menerangkan seolah paham dengan permainan sepakbola.
Aku memang bukan seorang pemuda yang cukup lihai dalam mengolah kulit bundar, namun sejak kecil aku sangat suka membaca Koran atau majalah sepakbola, dan sejak saat itu meski uang jajan ku tidak lah terlalu besar, aku selalu sisih kan uang jajan hanya untuk membeli majalah bola, kebetulan dikampungku dekat dengan pasar, dan setiap Jum’at siang kusempatkan kepasar membeli majalah bola mingguan diloper koran.
Oleh sebab itu, sedikit banyak aku lebih paham tentang perkembangan sepakbola, dibandingkan menguasai rumus matematika dan pelajaran-pelajaran disekolah lainnya.
Hampir sejam kami berbincang-bincang, aku mulai merasa bahwa Fatimah sudah mulai mengantuk. Sebelum kami akhiri pembicaraan tersebut, Fatimah akhirnya mengajak aku bertemu pada sebuah restoran yang menjual Es Krim, sebagai bentuk pembayaran hutang atas kekalahannya malam ini. Aku sedikit gugup, karena sama sekali aku belum pernah datang ketempat yang dijanjikan oleh Fatimah. Rasa minder, dan malu menghinggapi setelah aku mendengar ajakan Fatimah tersebut.
Sungguh benar-benar malam yang panjang untukku, Meiza dan Fatimah. Diawali dengan cobaan betus ban, dan di akhiri dengan kalimat manis Fatimah. “Besok jemput aku ya, aku mau traktir kamu Es Krim”, sepenggal kalimat Fatimah sebelum menuntaskan obrolan kami berdua ditelfon tadi.
“Tuhan Maha Benar, dibalik kesulitan pasti ada kemudahan”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar