Cerita hanya akan menjadi cerita,
selamanya tidak akan mampu mengembalikan masa.
Seingat
ku hari itu selasa, matahari masih setia pada khittah nya dalam memancarkan sinar di alam semesta. Hanya saja
ada yang beda memang, tidak seperti biasanya, angin berhembus sedikit kencang,
“ah ini kan
musim kemarau!!” gumam ku.
“Namun, jangan sampai perkara angin
dan terik matahari menghalangi ku untuk menikmati hari ini!!!”,
imbuh ku.
Apalagi
hari ini cukup istimewa, karena kembali hari ini aku dapat menikmati udara kota
yang meskipun sedikit terkontaminasi polusi, namun euforia masyarakatnya selalu
mengundang rindu bagi semua orang yang berasal dari kampung seperti aku.
Sebulan lebih aku berlibur kekampung halaman, setelah ujian akhir semester dan
kini saatnya aku pulang kekota untuk menunaikan kewajiban ku sebagai mahasiswa.
Karena ajaran baru segera tiba, dan kini usia ku di kampus sudah berusia dua
tahun, setelah masuk pada tahun 2008 yang lalu.
Berbekal
status sedang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, setidaknya cukup untuk
menjadi alasan mengapa aku bisa hijrah kekota dari kampung halaman. Karena
dikampung belum ada perguruan tinggi yang dapat di akses kecuali harus hijrah
kekota. Dan mungkin saja, aku adalah satu dari sekian banyak pemuda dikampung
ku yang lebih mementingkan pendidikan ketimbang, lulus sekolah menengah atas,
berkerja dikebun dan menikah.
Hal
ini karena tidak lepas dari prinsip keluarga ku, yang sudah turun menurun di
bawa oleh kakek, “Tidak ada gunanya
mewariskan harta karena itu bisa habis, Namun mewariskan ilmu kita dapat
menjadi kaya dan menggenggam dunia”, itulah wasiat kakek dua bulan sebelum
ia meninggal, kata pamanku.
“tring…tring…tring..tring”,
renunganku terhenti karena baru saja sadar handphone dengan merk Nokia 3310 ku
mengisyaratkan ada Short Massage Sending
(SMS) dari saku celana.
“Dimana??Jadi gak
ketemu hari ini?”, ringkas pertanyaannya setelah ku baca.
Namun,
fenomena ini tidak begitu mengagetkan bagiku, karena memang sudah kutunggu
sedari sejam yang lalu, sebelum akhirnya terbuai dengan renungan romantisme
sebagai anak kampung yang hijrah kekota.
“ia jadi, gw udah di tempat”. Spontan
SMS tersebut langsung ku balas.
Ismayatun,
sahabat lama dari kampung yang sudah tiga tahun tidak bertemu, ia sudah lebih
dulu meninggalkan kampung, untuk tujuan yang sama dengan orang yang memilih
hijrah kekota untuk mengenyam pendidikan tinggi. Kebetulan, kami baru saja saling tahu
nomor handphone, saat aku pulang kampong kemarin, idak sengaja aku bertemu
dengan saudara Ismayatun, spontan aku menanyakan kabar Ismayatun dan meminta
nomor handphonenya. Tentu saja selayaknya sahabat lama, aku berharap ada
momentum bertemu meskipun sekedar bercerita dan bertegur sapa.
Berbekal
rasa rindu tersebut, secara sengaja menghantarkan kami untuk melangkah pada
sebuah taman yang cukup familiar ditelinga setiap mahasiswa dikampus yaitu
‘beringin cinta’, karena Ismayatun adalah salah satu mahasiswi di kampus yang
sama dengan ku, namun kami berbeda fakultas. Tak ayal momentum pertemuan adalah
sesuatu yang sama-sama ditunggu oleh kami berdua, bak sepasang kekasih yang
sudah lama tidak bertemu memadu kasih. Ismayatun adalah sahabat karib ku sejak
kecil, bahkan dahulu hari-hari kami selalu diisi oleh cerita bersama, tanpa
terlewatkan.
Ia
(Ismayatun) bagiku merupakan sosok wanita yang Islami, tutur katanya lembut,
parasnya yang anggun, apa lagi hidupnya selalu dipenuhi oleh semangat
perjuangan, tak salah rasanya jika bagi sebagian lelaki, ia adalah sosok wanita
sempurna untuk menjadi pasangan hidup. Namun bagiku, Ismayatun tetaplah seorang
sahabat yang kukagumi, dengan segudang cerita masa lampau yang tidak pernah
bisa kami lupakan, bahkan terlalu sedih untuk diingat, karena cerita hanyalah
sebuah cerita, ia tidak akan mengembalikan masa.
Angin
ditaman yang dipenuhi oleh pohon yang sudah berusia ratusan tahun tak jarang ia
datang dengan runtuhan daun yang telah mengering, sejujurnya membuat kelopak
mataku sedikit agak berat, ditambah dengan rasa yang cukup lelah karena
diakibatkan perjalanan yang jauh dari kampung, tidak naif rasanya jika hasrat
untuk tidur menghinggapi benakku. Namun, hiruk pikuk aktivitas mahasiswa yang
ada disekitar taman, mereduksi rasa ngantuk ini.
“Alangkah
lamanya, sudah jam berapa ini??” gumam ku.
Setelah
hampir satu jam lamanya, aku duduk di pojokan taman, rupanya dari belakang ada
yang memukul pundak. “Sudah lama?”,
sosok wanita berbicara kepadaku, spontan saja aku jawab “belum, baru aja mikir mau pegi!!!” dengan sedikit nada sinis, menggambarkan
betapa setiap orang menjauhi pekerjaan menunggu. Ya!!! Sosok wanita yang selama
aku duduk di taman terus kubayangkan, rupanya tiga tahun tidak begitu membuat
perubahan berarti dalam hidup manusia.
Ismayatun
yang ku lihat tidak jauh berbeda dengan Ismayatun yang ku lihat tiga tahun yang
lalu.
“Dari mana dulu?
Gw sudah lama nunggu disini”, ketusku.
“Maaf tadi ada rapat dengan
teman-teman ngebahas program kegiatan”, sanggahnya.
Rupanya
Ismayatun adalah sosok aktifis mahasiswa dikampus, aku baru ingat bahwa
pamanku, pernah mengatakan,
“kalau jadi mahasiswa itu harus
ikut organisasi dikampus”, ujar pamanku sebelum aku berangkat
kekota.
Tambah
saja kekagumanku pada sosok Ismayatun, jarang sekali ada mahasiswi yang ingin
menyibukkan diri untuk organisasi kemahasiswaan dikampus. Padahal dengan aktif
di organisasi sebenarnya kita sedang membentuk kualitas diri yang lebih baik.
Dugaanku
sembari menunggu tadi ternyata benar, selama perbincangan kami tidak lepas dari
bercerita tentang masa lalu yang kami anggap itu cerita indah. Padahal jujur
saja, satu hal yang aku benci adalah terjebak dalam romantisme masa lalu.
Karena pada prinsipnya sah-sah saja kita membicarakan masa lalu, namun itu
hanya sekedarnya, tidak lebih penting dari membicarakan masa depan yang masih
suci untuk dikotori oleh buaian masa lalu.
“Selanjutnya
apa tujuanmu??”, tiba-tiba dia bertanya kepadaku.
Sebenarnya
pertanyaan itu agak sulit untuk kujawab, karena aku sendiri belum tahu apa
tujuan ku setelah ini. Yang aku tahu aku kekota hanya untuk kuliah, dan
seketika aku sadar ini kota bukan kampung halaman ku. Setidaknya, aku pun perlu
makan dan berusaha hidup sendiri, tidak bisa mengandalkan orang tua, yang
hidupnya pun pas-pasan. Namun paras wajahnya mengisaratkan sedang menunggu
jawaban ku.
“Kuliah sambil kerja”,
dengan sedikit optimis aku menjawabnya. Semoga dia tidak bertanya aneh-aneh
lagi, aku berfikir dengan licik.
“Jadi kekasih mu
siapa sekarang?”, Ismayatun kembali bertanya
Terang
saja aku kaget dan tidak habis fikir, apa gerangan yang ada dalam benaknya
sehingga dengan mudah ia bertanya demikian. Sekalipun sebagai seorang remaja
mendekati dewasa, bisa saja ini sangat lumrah diperbincangkan, apa lagi
Ismayatun tahu benar siapa aku bahkan kisah percintaan dengan kekasih-kekasih
ku dahulu.
Tetapi
ini reuni kami, aku berharap tidak ada interaksisaling ‘curhat’ tentang cerita
romansa yang selama tiga tahun lebih kami jalani masing-masing tanpa saling tahu,
hati ku memberontak.
Namun,
karena kami berteman lebih dari saudara, rasanya sah-sah saja jika aku
menceritakan kisah percintaan ku selama ini dari A sampai Z kepadanya.
Dengan
raut wajah tenang dan datar Ismayatun mencoba menjadi pendengar yang setia,
sesekali keluar ucapan dari mulutnya “oh..begitu
ya..”.Sebuah pemandangan yang tidak pernah berubah, ketika dahulu aku
bercerita tentang semua problematika hidup.
“Sedikit
pun ia tidak pernah berubah”, aku berfikir demikian.
Sampai
aku selesai bercerita pun Ismayatun tidak banyak berkomentar, hal ini ku
wajarkan, karena Ismayatun salah satu wanita yang tidak banyak bicara, dan
lebih suka menjadi pendengar setia. Maka tidak aneh rasanya jika ia tidak
begitu merespon.
“Mau ku kenal
kan dengan kawan ku?”, cetusnya..
“Gila..ada apa dengan wanita satu
ini, sejujurnya baru kali ini aku mendengar kalimat tersebut keluar dari
mulutnya”, gumam ku..
“Sungguh, aku fikir wanita ini
sangat cocok untuk mu”, ia berusaha meyakinkan ku..
Aku
yakin, meski kami sudah tiga tahun lebih tidak bertemu, namun ia masih hafal
dengan perangai ku, kegilaan ku, bahkan seluruh sifat ku. Namun, siapapun itu,
aku yakin Ismayatun tahu benar apa yang harus ia lakukan. Oleh sebab itu, aku
mengikuti sarannya, aku pun berfikir mungkin saja ini adalah respon setelah ia
mendengarkan ceritaku tadi.
Tak
lama kemudian, ia mengeluarkan handphone, dan segera membacakan nomor handphone
sahabat yang ia rekomendasikan kepada ku.
“Nih nomor nya..namanya Fatimah”,
sambil memerintahkan aku mencatatnya.
Dengan
sigap aku seolah terhipnotis ucapannya, karena sejujurnya aku memang tengah
mengalami penyakit hati yang biasa melanda kaula muda. Dan Ismayatun adalah
sahabat yang kukenal baik sejak kecil, karena dengan mempercayai sahabat secara
sadar kita mempercayai bahwa kita tidak hidup sendiri didunia ini.
Setelah
hampir dua jam lebih kami berbincang-bincang rupanya kami tak sadar, matahari
sudah mulai pergi meninggalkan siang ini, karena bulan akan mulai bekerja. Akhirnya
kami sepakat untuk menyudahi pertemuan ini, sebuah perpisahan kecil, yang cukup berat karena
entah kapan lagi akan bertemu dengan kesibukan masing-masing. Meskipun berada
dalam kampus yang sama, namun dengan kesibukan kami sebagai mahasiswa, ternyata
itu lah yang menghalangi kami bertemu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar