Wikipedia

Hasil penelusuran

Selasa, 28 Januari 2014

Siang di beringin cinta



Cerita hanya akan menjadi cerita, selamanya tidak akan mampu mengembalikan masa.
Seingat ku hari itu selasa, matahari masih setia pada khittah nya dalam memancarkan sinar di alam semesta. Hanya saja ada yang beda memang, tidak seperti biasanya, angin berhembus sedikit kencang,
“ah ini kan musim kemarau!!” gumam ku.
“Namun, jangan sampai perkara angin dan terik matahari menghalangi ku untuk menikmati hari ini!!!”, imbuh ku.
Apalagi hari ini cukup istimewa, karena kembali hari ini aku dapat menikmati udara kota yang meskipun sedikit terkontaminasi polusi, namun euforia masyarakatnya selalu mengundang rindu bagi semua orang yang berasal dari kampung seperti aku. Sebulan lebih aku berlibur kekampung halaman, setelah ujian akhir semester dan kini saatnya aku pulang kekota untuk menunaikan kewajiban ku sebagai mahasiswa. Karena ajaran baru segera tiba, dan kini usia ku di kampus sudah berusia dua tahun, setelah masuk pada tahun 2008 yang lalu.
Berbekal status sedang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, setidaknya cukup untuk menjadi alasan mengapa aku bisa hijrah kekota dari kampung halaman. Karena dikampung belum ada perguruan tinggi yang dapat di akses kecuali harus hijrah kekota. Dan mungkin saja, aku adalah satu dari sekian banyak pemuda dikampung ku yang lebih mementingkan pendidikan ketimbang, lulus sekolah menengah atas, berkerja dikebun dan menikah.
Hal ini karena tidak lepas dari prinsip keluarga ku, yang sudah turun menurun di bawa oleh kakek, “Tidak ada gunanya mewariskan harta karena itu bisa habis, Namun mewariskan ilmu kita dapat menjadi kaya dan menggenggam dunia”, itulah wasiat kakek dua bulan sebelum ia meninggal, kata pamanku.
“tring…tring…tring..tring”, renunganku terhenti karena baru saja sadar handphone dengan merk Nokia 3310 ku mengisyaratkan ada Short Massage Sending (SMS) dari saku celana.
“Dimana??Jadi gak ketemu hari ini?”, ringkas pertanyaannya setelah ku baca.


Namun, fenomena ini tidak begitu mengagetkan bagiku, karena memang sudah kutunggu sedari sejam yang lalu, sebelum akhirnya terbuai dengan renungan romantisme sebagai anak kampung yang hijrah kekota.
 “ia jadi, gw udah di tempat”. Spontan SMS  tersebut langsung ku balas.
Ismayatun, sahabat lama dari kampung yang sudah tiga tahun tidak bertemu, ia sudah lebih dulu meninggalkan kampung, untuk tujuan yang sama dengan orang yang memilih hijrah kekota untuk mengenyam pendidikan  tinggi. Kebetulan, kami baru saja saling tahu nomor handphone, saat aku pulang kampong kemarin, idak sengaja aku bertemu dengan saudara Ismayatun, spontan aku menanyakan kabar Ismayatun dan meminta nomor handphonenya. Tentu saja selayaknya sahabat lama, aku berharap ada momentum bertemu meskipun sekedar bercerita dan bertegur sapa.
Berbekal rasa rindu tersebut, secara sengaja menghantarkan kami untuk melangkah pada sebuah taman yang cukup familiar ditelinga setiap mahasiswa dikampus yaitu ‘beringin cinta’, karena Ismayatun adalah salah satu mahasiswi di kampus yang sama dengan ku, namun kami berbeda fakultas. Tak ayal momentum pertemuan adalah sesuatu yang sama-sama ditunggu oleh kami berdua, bak sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu memadu kasih. Ismayatun adalah sahabat karib ku sejak kecil, bahkan dahulu hari-hari kami selalu diisi oleh cerita bersama, tanpa terlewatkan.
Ia (Ismayatun) bagiku merupakan sosok wanita yang Islami, tutur katanya lembut, parasnya yang anggun, apa lagi hidupnya selalu dipenuhi oleh semangat perjuangan, tak salah rasanya jika bagi sebagian lelaki, ia adalah sosok wanita sempurna untuk menjadi pasangan hidup. Namun bagiku, Ismayatun tetaplah seorang sahabat yang kukagumi, dengan segudang cerita masa lampau yang tidak pernah bisa kami lupakan, bahkan terlalu sedih untuk diingat, karena cerita hanyalah sebuah cerita, ia tidak akan mengembalikan masa.
Angin ditaman yang dipenuhi oleh pohon yang sudah berusia ratusan tahun tak jarang ia datang dengan runtuhan daun yang telah mengering, sejujurnya membuat kelopak mataku sedikit agak berat, ditambah dengan rasa yang cukup lelah karena diakibatkan perjalanan yang jauh dari kampung, tidak naif rasanya jika hasrat untuk tidur menghinggapi benakku. Namun, hiruk pikuk aktivitas mahasiswa yang ada disekitar taman, mereduksi rasa ngantuk ini.
“Alangkah lamanya, sudah jam berapa ini??” gumam ku.
Setelah hampir satu jam lamanya, aku duduk di pojokan taman, rupanya dari belakang ada yang memukul pundak. “Sudah lama?”, sosok wanita berbicara kepadaku, spontan saja aku jawab “belum, baru aja mikir mau pegi!!!” dengan sedikit nada sinis, menggambarkan betapa setiap orang menjauhi pekerjaan menunggu. Ya!!! Sosok wanita yang selama aku duduk di taman terus kubayangkan, rupanya tiga tahun tidak begitu membuat perubahan berarti dalam hidup manusia.
Ismayatun yang ku lihat tidak jauh berbeda dengan Ismayatun yang ku lihat tiga tahun yang lalu. 
“Dari mana dulu? Gw sudah lama nunggu disini”, ketusku.
“Maaf tadi ada rapat dengan teman-teman ngebahas program kegiatan”, sanggahnya.
Rupanya Ismayatun adalah sosok aktifis mahasiswa dikampus, aku baru ingat bahwa pamanku, pernah mengatakan,
“kalau jadi mahasiswa itu harus ikut organisasi dikampus”, ujar pamanku sebelum aku berangkat kekota.
Tambah saja kekagumanku pada sosok Ismayatun, jarang sekali ada mahasiswi yang ingin menyibukkan diri untuk organisasi kemahasiswaan dikampus. Padahal dengan aktif di organisasi sebenarnya kita sedang membentuk kualitas diri yang lebih baik.
Dugaanku sembari menunggu tadi ternyata benar, selama perbincangan kami tidak lepas dari bercerita tentang masa lalu yang kami anggap itu cerita indah. Padahal jujur saja, satu hal yang aku benci adalah terjebak dalam romantisme masa lalu. Karena pada prinsipnya sah-sah saja kita membicarakan masa lalu, namun itu hanya sekedarnya, tidak lebih penting dari membicarakan masa depan yang masih suci untuk dikotori oleh buaian masa lalu.
“Selanjutnya apa tujuanmu??”, tiba-tiba dia bertanya kepadaku.
Sebenarnya pertanyaan itu agak sulit untuk kujawab, karena aku sendiri belum tahu apa tujuan ku setelah ini. Yang aku tahu aku kekota hanya untuk kuliah, dan seketika aku sadar ini kota bukan kampung halaman ku. Setidaknya, aku pun perlu makan dan berusaha hidup sendiri, tidak bisa mengandalkan orang tua, yang hidupnya pun pas-pasan. Namun paras wajahnya mengisaratkan sedang menunggu jawaban ku.
“Kuliah sambil kerja”, dengan sedikit optimis aku menjawabnya. Semoga dia tidak bertanya aneh-aneh lagi, aku berfikir dengan licik.
“Jadi kekasih mu siapa sekarang?”, Ismayatun kembali bertanya
Terang saja aku kaget dan tidak habis fikir, apa gerangan yang ada dalam benaknya sehingga dengan mudah ia bertanya demikian. Sekalipun sebagai seorang remaja mendekati dewasa, bisa saja ini sangat lumrah diperbincangkan, apa lagi Ismayatun tahu benar siapa aku bahkan kisah percintaan dengan kekasih-kekasih ku dahulu.
Tetapi ini reuni kami, aku berharap tidak ada interaksisaling ‘curhat’ tentang cerita romansa yang selama tiga tahun lebih kami jalani masing-masing tanpa saling tahu, hati ku memberontak.
Namun, karena kami berteman lebih dari saudara, rasanya sah-sah saja jika aku menceritakan kisah percintaan ku selama ini dari A sampai Z kepadanya.

Dengan raut wajah tenang dan datar Ismayatun mencoba menjadi pendengar yang setia, sesekali keluar ucapan dari mulutnya “oh..begitu ya..”.Sebuah pemandangan yang tidak pernah berubah, ketika dahulu aku bercerita tentang semua problematika hidup.
“Sedikit pun ia tidak pernah berubah”, aku berfikir demikian.
Sampai aku selesai bercerita pun Ismayatun tidak banyak berkomentar, hal ini ku wajarkan, karena Ismayatun salah satu wanita yang tidak banyak bicara, dan lebih suka menjadi pendengar setia. Maka tidak aneh rasanya jika ia tidak begitu merespon.
“Mau ku kenal kan dengan kawan ku?”, cetusnya..
“Gila..ada apa dengan wanita satu ini, sejujurnya baru kali ini aku mendengar kalimat tersebut keluar dari mulutnya”, gumam ku..
“Sungguh, aku fikir wanita ini sangat cocok untuk mu”, ia berusaha meyakinkan ku..
Aku yakin, meski kami sudah tiga tahun lebih tidak bertemu, namun ia masih hafal dengan perangai ku, kegilaan ku, bahkan seluruh sifat ku. Namun, siapapun itu, aku yakin Ismayatun tahu benar apa yang harus ia lakukan. Oleh sebab itu, aku mengikuti sarannya, aku pun berfikir mungkin saja ini adalah respon setelah ia mendengarkan ceritaku tadi.
Tak lama kemudian, ia mengeluarkan handphone, dan segera membacakan nomor handphone sahabat yang ia rekomendasikan kepada ku.
“Nih nomor nya..namanya Fatimah”, sambil memerintahkan aku mencatatnya.
Dengan sigap aku seolah terhipnotis ucapannya, karena sejujurnya aku memang tengah mengalami penyakit hati yang biasa melanda kaula muda. Dan Ismayatun adalah sahabat yang kukenal baik sejak kecil, karena dengan mempercayai sahabat secara sadar kita mempercayai bahwa kita tidak hidup sendiri didunia ini.
Setelah hampir dua jam lebih kami berbincang-bincang rupanya kami tak sadar, matahari sudah mulai pergi meninggalkan siang ini, karena bulan akan mulai bekerja. Akhirnya kami sepakat untuk menyudahi pertemuan ini, sebuah  perpisahan kecil, yang cukup berat karena entah kapan lagi akan bertemu dengan kesibukan masing-masing. Meskipun berada dalam kampus yang sama, namun dengan kesibukan kami sebagai mahasiswa, ternyata itu lah yang menghalangi kami bertemu.
Taka apa lah, dengan ikatan persahabatan yang ada dalam diri kami berdua, kami yakin bahwa yang akan mempertemukan kami adalah ikatan batin diatas tali persahabatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar