Wikipedia
Hasil penelusuran
Sabtu, 28 Desember 2013
this is beach in krui
Label:
Mizza
Lokasi: bandar lampung
Krui, 34874, Indonesia
Kamis, 05 Desember 2013
KISAH KH.HASYIM ASY'ARY & KH.AHMAD DAHLAN
Pernahkah selama ini kita mendapatkan nasehat dan cerita tentang 2
tokoh besar berdirinya NU dan Muhammadiyah? Dengan kisah ini semoga
membuka hati kita komunitas NU dan Muhammadiyah.
Subhanallah....ternyata mereka adalah 2 teman yang sangat baik, 2
sahabat sejati, 2 sisi mata uang, ibarat air dan tanah, tidak saja
kenal, bukan saja sering bertemu, tetapi mereka "ngliwet" bersama selam
bertahun-tahun. Mereka tidur bersama dalam satu bilik kecil di
pesantren tempat mereka menggali dan mendalami lautan ilmu Allah
swt.......
Hadratus Syaikh KH M. Hasyim Asy'ari
Jombang
l933. Terjadi dialog yang mengesankan antara dua ulama besar, KH
Muhammad Hasyim Asy'ari dengan KH Mohammad Cholil, gurunya. "Dulu saya
memang mengajar Tuan. Tapi hari ini, saya nyatakan bahwa saya adalah
murid Tuan," kata Mbah Cholil, begitu kiai dari Madura ini populer
dipanggil. Kiai Hasyim menjawab, "Sungguh saya tidak menduga kalau Tuan
Guru akan mengucapkan kata-kata yang demikian. Tidakkah Tuan Guru
salah raba berguru pada saya, seorang murid Tuan sendiri, murid Tuan
Guru dulu, dan juga sekarang. Bahkan, akan tetap menjadi murid Tuan
Guru selama-lamanya." Tanpa merasa tersanjung, Mbah Cholil tetap
bersikeras dengan niatnya. "Keputusan dan kepastian hati kami sudah
tetap, tiada dapat ditawar dan diubah lagi, bahwa kami akan turut
belajar di sini, menampung ilmu-ilmu Tuan, dan berguru kepada Tuan,"
katanya. Karena sudah hafal dengan watak gurunya, Kiai Hasyim tidak
bisa berbuat lain selain menerimanya sebagai santri.
Lucunya,
ketika turun dari masjid usai shalat berjamaah, keduanya cepat-cepat
menuju tempat sandal, bahkan kadang saling mendahului, karena hendak
memasangkan ke kaki gurunya.
Sesungguhnya bisa saja terjadi
seorang murid akhirnya lebih pintar ketimbang gurunya. Dan itu banyak
terjadi. Namun yang ditunjukkan Kiai Hasyim juga Kiai Cholil; adalah
kemuliaan akhlak. Keduanya menunjukkan kerendahan hati dan saling
menghormati, dua hal yang sekarang semakin sulit ditemukan pada para
murid dan guru-guru kita.
Mbah Cholil adalah kiai yang sangat
termasyhur pada jamannya. Hampir semua pendiri NU dan tokoh-tokoh
penting NU generasi awal pernah berguru kepada pengasuh sekaligus
pemimpin Pesantren Kademangan, Bangkalan Madura ini. Sedangkan Kiai
Hasyim sendiri tak kalah cemerlangnya. Bukan saja ia pendiri sekaligus
pemimpin tertinggi NU, yang punya pengaruh sangat kuat kepada kalangan
ulama, tapi juga lantaran ketinggian ilmunya. Terutama, kakek
Abdurrahman Wachid (Gus Dur) ini terkenal mumpuni dalam ilmu Hadits.
Setiap Ramadhan Kiai Hasyim punya 'tradisi' menggelar kajian hadits
Bukhari dan Muslim selama sebulan suntuk. Kajian itu mampu menyedot
perhatian ummat Islam.
Maka tak heran bila pesertanya datang dari
berbagai daerah di Indonesia, termasuk mantan gurunya sendiri, Kiai
Cholil. Ribuan santri menimba ilmu kepada Kiai Hasyim. Setelah lulus
dari Tebuireng, tak sedikit di antara santri Kiai Hasyim kemudian
tampil sebagai tokoh dan ulama kondang dan berpengaruh luas. KH Abdul
Wahab Chasbullah, KH. Bisri Syansuri, KH. R. As'ad Syamsul Arifin,
Wahid Hasyim (anaknya) dan KH Achmad Siddiq adalah beberapa ulama
terkenal yang pernah menjadi santri Kiai Hasyim.
Tak pelak lagi
pada abad 20 Tebuireng merupakan pesantren paling besar dan paling
penting di Jawa. Zamakhsyari Dhofier, penulis buku 'Tradisi Pesantren',
mencatat bahwa pesantren Tebuireng adalah sumber ulama dan pemimpin
lembaga-lembaga pesantren di seluruh Jawa dan Madura. Tak heran bila
para pengikutnya kemudian memberi gelar Hadratus-Syekh (tuan guru
besar) kepada Kiai Hasyim.
Karena pengaruhnya yang demikian kuat
itu, keberadaan Kiai Hasyim menjadi perhatian serius penjajah. Baik
Belanda maupun Jepang berusaha untuk merangkulnya. Di antaranya ia
pernah dianugerahi bintang jasa pada tahun 1937, tapi ditolaknya.
Justru Kiai Hasyim sempat membuat Belanda kelimpungan. Pertama, ia
memfatwakan bahwa perang melawan Belanda adalah jihad (perang suci).
Belanda kemudian sangat kerepotan, karena perlawanan gigih melawan
penjajah muncul di mana-mana. Kedua, Kiai Hasyim juga pernah
mengharamkan naik haji memakai kapal Belanda. Fatwa tersebut ditulis
dalam bahasa Arab dan disiarkan oleh Kementerian Agama secara luas.
Keruan saja, Van der Plas (penguasa Belanda) menjadi bingung. Karena
banyak ummat Islam yang telah mendaftarkan diri kemudian mengurungkan
niatnya.
Namun sempat juga Kiai Hasyim mencicipi penjara 3 bulan
pada l942. Tidak jelas alasan Jepang menangkap Kiai Hasyim. Mungkin,
karena sikapnya tidak kooperatif dengan penjajah. Uniknya, saking
khidmatnya kepada gurunya, ada beberapa santri minta ikut dipenjarakan
bersama kiainya itu.
Mendirikan NU
Kemampuannya
dalam ilmu hadits, diwarisi darigurunya, Syekh Mahfudh at-Tarmisi di
Mekkah. Selama 7 tahun Hasyim berguru kepada Syekh ternama asal
Pacitan, Jawa Timur itu. Disamping Syekh Mahfudh, Hasyim juga menimba
ilmu kepada Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabau. Kepada dua guru besar
itu pulalah Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, berguru. Jadi,
antara KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan sebenarnya tunggal guru.
Yang
perlu ditekankan, saat Hasyim belajar di Mekkah, Muhammad Abduh
sedang giat-giatnya melancarkan gerakan pembaharuan pemikiran Islam. Dan
sebagaimana diketahui, buah pikiran Abduh itu sangat mempengaruhi
proses perjalanan ummat Islam selanjutnya. Sebagaimana telah dikupas
Deliar Noer, ide-ide reformasi Islam yang dianjurkan oleh Abduh yang
dilancarkan dari Mesir, telah menarik perhatian santri-santri Indonesia
yang sedang belajar di Mekkah. Termasuk Hasyim tentu saja. Ide
reformasi Abduh itu ialah pertama mengajak ummat Islam untuk memurnikan
kembali Islam dari pengaruh dan praktek keagamaan yang sebenarnya
bukan berasal dari Islam. Kedua, reformasi pendidikan Islam di tingkat
universitas; dan ketiga, mengkaji dan merumuskan kembali doktrin Islam
untuk disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan kehidupan modern; dan
keempat, mempertahankan Islam. Usaha Abduh merumuskan doktrin-doktrin
Islam untuk memenuhi kebutuhan kehidupan modern pertama dimaksudkan
agar supaya Islam dapat memainkan kembali tanggung jawab yang lebih
besar dalam lapangan sosial, politik dan pendidikan.
Dengan
alasan inilah Abduh melancarkan ide agar ummat Islam melepaskan diri
dari keterikatan mereka kepada pola pikiran para mazhab dan agar ummat
Islam meninggalkan segala bentuk praktek tarekat. Syekh Ahmad Khatib
mendukung beberapa pemikiran Abduh, walaupun ia berbeda dalam beberapa
hal. Beberapa santri Syekh Khatib ketika kembali ke Indonesia ada yang
mengembangkan ide-ide Abduh itu. Di antaranya adalah KH Ahmad Dahlan
yang kemudian mendirikan Muhammadiyah. Tidak demikian dengan Hasyim.
Ia sebenarnya juga menerima ide-ide Abduh untuk menyemangatkan kembali
Islam, tetapi ia menolak pikiran Abduh agar ummat Islam melepaskan
diri dari keterikatan mazhab. Ia berkeyakinan bahwa adalah tidak
mungkin untuk memahami maksud yang sebenarnya dari ajaran-ajaran
Al-Qur'an dan Hadist tanpa mempelajari pendapat-pendapat para ulama
besar yang tergabung dalam sistem mazhab. Untuk menafsirkan al-Qur'an
dan Hadist tanpa mempelajari dan meneliti buku-buku para ulama mazhab
hanya akan menghasilkan pemutarbalikan saja dari ajaran-ajaran Islam
yang sebenarnya, demikian tulis Dhofier. Dalam hal tarekat, Hasyim
tidak menganggap bahwa semua bentuk praktek keagamaan waktu itu salah
dan bertentangan dengan ajaran Islam. Hanya, ia berpesan agar ummat
Islam berhati-hati bila memasuki kehidupan tarekat. Dalam
perkembangannya, benturan pendapat antara golongan bermazhab yang
diwakili kalangan pesantren (sering disebut kelompok tradisional),
dengan yang tidak bermazhab (diwakili Muhammadiyah dan Persis, sering
disebut kelompok modernis) itu memang kerap tidak terelakkan.
Puncaknya adalah saat Konggres Al Islam IV yang diselenggarakan di
Bandung. Konggres itu diadakan dalam rangka mencari masukan dari
berbagai kelompok ummat Islam, untuk dibawa ke Konggres Ummat Islam di
Mekkah.
Karena aspirasi golongan tradisional tidak tertampung
(di antaranya: tradisi bermazhab agar tetap diberi kebebasan,
terpeliharanya tempat-tempat penting, mulai makam Rasulullah sampai
para sahabat) kelompok ini kemudian membentuk Komite Hijaz. Komite
yang dipelopori KH Abdullah Wahab Chasbullah ini bertugas menyampaikan
aspirasi kelompok tradisional kepada penguasa Arab Saudi. Atas restu
Kiai Hasyim, Komite inilah yang pada 31 Februari l926 menjelma jadi
Nahdlatul Ulama (NU) yang artinya kebangkitan ulama.
Setelah NU
berdiri posisi kelompok tradisional kian kuat. Terbukti, pada l937
ketika beberapa ormas Islam membentuk badan federasi partai dan
perhimpunan Islam Indonesia yang terkenal dengan sebuta MIAI (Majelis
Islam A'la Indonesia) Kiai Hasyim diminta jadi ketuanya. Ia juga pernah
memimpin Masyumi, partai politik Islam terbesar yang pernah ada di
Indonesia. Keturunan Raja Pajang
Lahir 24 Dzul Qaidah 1287
Hijriah atau 14 Februari l871 Masehi, Hasyim adalah putra ketiga dari
11 bersaudara. Dari garis ibu, Halimah, Hasyim masih terhitung
keturunan ke delapan dari Jaka Tingkir alias Sultan Pajang, raja
Pajang. Namun keluarga Hasyim adalah keluarga kiai. Kakeknya, Kiai
Utsman memimpin Pesantren Nggedang, sebelah utara Jombang. Sedangkan
ayahnya sendiri, Kiai Asy'ari, memimpin Pesantren Keras yang berada di
sebelah selatan Jombang. Dua orang inilah yang menanamkan nilai dan
dasar-dasar Islam secara kokoh kepada Hasyim.
Sejak anak-anak,
bakat kepemimpinan dan kecerdasan Hasyim memang sudah nampak. Di
antara teman sepermainannya, ia kerap tampil sebagai pemimpin. Dalam
usia 13 tahun, ia sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang
lebih besar ketimbang dirinya. Usia 15 tahun Hasyim meninggalkan kedua
orang tuanya, berkelana memperdalam ilmu dari satu pesantren ke
pesantren lain. Mula-mula ia menjadi santri di Pesantren Wonokoyo,
Probolinggo. Kemudian pindah ke Pesantren Langitan, Tuban. Pindah lagi
Pesantren Trenggilis, Semarang. Belum puas dengan berbagai ilmu yang
dikecapnya, ia melanjutkan di Pesantren Kademangan, Bangkalan di bawah
asuhan Kiai Cholil.
Tak lama di sini, Hasyim pindah lagi di
Pesantren Siwalan, Sidoarjo. Di pesantren yang diasuh Kiai Ya'qub
inilah, agaknya, Hasyim merasa benar-benar menemukan sumber Islam yang
diinginkan. Kiai Ya'qub dikenal sebagai ulama yang berpandangan luas
dan alim dalam ilmu agama. Cukup lama --lima tahun-- Hasyim menyerap
ilmu di Pesantren Siwalan. Dan rupanya Kiai Ya'qub sendiri kesengsem
berat kepada pemuda yang cerdas dan alim itu. Maka, Hasyim bukan saja
mendapat ilmu, melainkan juga istri. Ia, yang baru berumur 21 tahun,
dinikahkan dengan Chadidjah, salah satu puteri Kiai Ya'qub. Tidak lama
setelah menikah, Hasyim bersama istrinya berangkat ke Mekkah guna
menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan di sana, Hasyim kembali ke tanah
air, sesudah istri dan anaknya meninggal.
Tahun 1893, ia
berangkat lagi ke Tanah Suci. Sejak itulah ia menetap di Mekkah selama 7
tahun. Tahun 1899 pulang ke Tanah Air, Hasyim mengajar di pesanten
milik kakeknya, Kiai Usman. Tak lama kemudian ia mendirikan Pesantren
Tebuireng. Kiai Hasyim bukan saja kiai ternama, melainkan juga seorang
petani dan pedagang yang sukses. Tanahnya puluhan hektar. Dua hari
dalam seminggu, biasanya Kiai Hasyim istirahat tidak mengajar. Saat
itulah ia memeriksa sawah-sawahnya. Kadang juga pergi Surabaya
berdagang kuda, besi dan menjual hasil pertaniannya. Dari bertani dan
berdagang itulah, Kiai Hasyim menghidupi keluarga dan pesantrennya. Dari
perkawinannya dengan Mafiqah, putri Kiai Ilyas, Kiai Hasyim dikarunia
10 putra: Hannah, Khoriyah, Aisyah, Ummu Abdul Hak (istri Kiai
Idris), Abdul Wahid, Abdul Kholik, Abdul Karim, Ubaidillah, Masrurah
dan Muhammad Yusuf. Wafat 25 Juli 1947. Atas jasa-jasanya pemerintah
mengangkatnya sebagai Pahlawan Nasional.
Semoga Allah SWT mensucikan ruhnya dan menempatkannya di tempat mulia di sisi-Nya. Amin.
DAHLAN ASY'ARY
Wahai saudaraku Muhammadiyah-Nahdlatul Ulama.
Ketahuilah.
KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari adalah sama-sama keturunan
Sunan Giri (Syekh Maulana ‘Ainul Yaqin), yang apabila ditarik garis ke
atas, nasabnya sampai kepada Rasulullah Saw. Ketika keduanya lahir,
oleh orang tua mereka masing-masing diberi nama depan yang sama,
yaitu Muhammad. Nama kecil KH. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwis,
sedangkan nama kecil KH. Hasyim Asy’ari adalah Muhammad Hasyim.
Keduanya pernah berguru kepada ulama besar yang sama, yaitu kepada KH.
Saleh Darat al-Samarangi, Syekh Mahfud al-Tarmasy, dan Syekh Ahmad
Khatib Minangkabau. Selama puluhan tahun mereka selalu bersama, hidup
dalam pusaran lautan ilmu yang luas, dibimbing bersama, mengenyam ilmu
bersama, hidup dalam jalinan kasih sayang yang tulus karena Gusti
Allah semata. Tak pernah ada dalam kisah atau sejarah mereka berdua
bertengkar, sama sekali tidak pernah. Subhanallah.
KH.
Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah yang berlambang matahari, KH.
Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdhatul Ulama (NU) yang berlambang bumi dan
bintang. Muhammadiyah banyak dijiwai oleh semangat QS. Ali Imran ayat
104, sedangkan NU, QS. Ali Imran ayat 103. Dan, K.H. Hasyim Asy’ari
mendirikan NU tidak lama setelah K.H. Ahmad Dahlan wafat. Apakah ini
juga sekadar kebetulan?
UBUDIYAH KH.AHMAD DAHLAN=KH.HASYIM ASY'ARY
KH
Ahmad Dahlan sebelum menunaikan ibadah haji ke tanah suci bernama
‘’Muhammad Darwis’’. Seusai menunaikan ibadah haji, beliau diganti
namanya oleh Sayyid Abu Bakar Syata, ulama besar yang bermadhab
Syafii. Jauh sebelum menunaikan ibadah haji, dan belajar mendalami ilmu
agama. KH Ahmad Dahlan telah belajar agama kepada Syeh Sholeh Darat.
KH Sholih Darat adalah ulama’ besar yang telah bertahun-tahun ngaji
dan mengajar di Masjidilharam. Di Pondok pesantren milik KH Murtadho
(sang mertua), KH Sholih darat mengajar santri-santri beragama ilmu
agama, seperti; Alhilam (tasawof), Kitab Al-Munjiyah (Karya Syeh
Sholih Darat), Fikih (Kitab Lataif Al-Taharah), serta beragam ilmu
agama lainnya. Di pesantren ini, Mohammad Darwis ditemukan dengan
Hasyim As’ary. Kedunaya sama-sama mendalami ilmu agama dari ulama
besar Syekh Sholih Darat. Waktu itu, Mohmmad Darwis berusia 16 tahun
sementara, Hasyim As’ary berusia 14 tahun. Dalam keseharian, Mohamamd
Darwis memanggil Hasyim dengan sebutan ‘’Adi Hasyim’’. Sementara,
Hasyim As’ary memanggil Mohamamd Darwis dengan panggilan ‘’Mas
Darwis’’. Konon, semasa di Pesantren, keduanya sekamar. Keduannya
menjadi santri Syekh Sholih darat sekitar 2 tahun penuh. Selepas
nyantri di Pesantren Syekh Sholih Darat. Keduanya mendalami ilmu
agamanya di Makkah, dimana Sang Guru Syekh Sholih Darat pernah menimba
ilmu bertahun-tahun lamanya. Tentu saja, sang Guru sudah membekali
akidah dan ilmu fikih yang cukup. Sekaligus telah memberikan referensi
ulama-ulama mana yang harus didatangi dan diserap ilmunya selama di
Makkah. Puluhan ulama-ulama Makkah waktu itu berdarah nusantara.
Praktek ibadah waktu, seperti; tasawuf, wirid, tahlil, membaca
barzanzi (diba’) menjadi bagian dari kehidupan ulama-ulama nusantara.
Hampir semua karya-karya Syekh Muhmmad Yasin Al-Fadani, Syekh Muhammad
Mahfud Al-Turmusi menceritakan tentang madhab al-Syafii dan
As’aryiyah sebagai akidahnya. Tentu saja, itu pula yang di ajarkan
kepada murid-muridnya, seperti; KH Ahmad Dahlan, Hasyim As’ary, Wahab
Hasbullah, Syekh Abdul Kadir Mandailing dll (lihat: Profil Pendidikan
dan Ulama’ Indonesia di Makkah: Abd. Adzim Irsad). Seusai pulan dari
Makkah, masing-masing mengamalkan ilmu yang telah diperoleh dari
guru-gurunya di Makkah. Mohammad Darwis yang telah di ubah namanya
menjadi Ahmad Dahlan mendirikan persarikatan Muhamamdiyah. Sedangkan
Hasyim As’ary mendirikan NU (Nahdhotul Ulama’). Begitulah persaudaraan
sejati yang dibangun sejak menjadi santri Syekh Sholih Darat hingga
menjadi santri di Tanah Suci Makkah. Keduanya juga membuktikan, kalau
dirinya tidak ada perbedaan di dalam urusan akidah, dan
madhabnya. Saat itu di Makkah memang mayoritas bermadhab Syafii dan
berakidah Asary. Wajar, jika praktek ibadah sehari-hari KH Ahmad
Dahlan persis dengan guru-gurunya di tanah suci. Semisal sholat subuh,
KH Ahmad Dahan tetap menggunakan Qunut, dan tidah pernah berpendapat
bahwa Qunut sholat subuh Nabi Muhammad Saw adalah Qunut Nazilah.
Karena beliau sangat memahami ilmu hadis dan juga memahami ilmu fikih.
Begitu Tarawihnya, KH Ahmad Dahlan praktek Tarawihnya 20
rakaat. Penduduk Makkah sejak ber-abad-abad, sejak masa Umar Ibn
Al-Khttab, telah menjalankan Tarawih 20 rakaat dengan tiga witir,
hingga sekarang. Jumlah ini telah disepakati oleh sahabat-sahabat Nabi
Saw. Bagi penduduk Makkah, tarawih 20 rakaat merupakan Ijmak Sahabat.
Sedangkan penduduk Madinah melaksanakan 36 rakaat. Penduduk Madinah
ber-anggapan, setiap pelaksanaan 2 X salaman, semua beristirahat. Pada
waktu istirahat, mereka mengisi dengan thowaf sunnah. Nyaris,
pelaksanaan sholat tarawih hingga malam, bahkan menjelang shubuh. Di
sela-sela tarawih itulah keuntungan penduduk Makkah, karena bisa
menambah pahala ibadah. Bagi penduduk Madinah, untuk mengimbangi
pahala, mereka melaksanakan tarawih dengan jumlah lebih banyak. Jika di
lihat dari pengertiannya, sebagaimana di dijelaskan oleh al-HafizIbn
Hajar al-A’sqallâniy dalam kitab Fath al-Bâriy Syarh al-Bukhâriy sebagai
berikut: سُمِّيَتْ الصَّلَاة فِي الْجَمَاعَة فِي لَيَالِي رَمَضَان
التَّرَاوِيحَ لِأَنَّهُمْ أَوَّلَ مَا ِجْتَمَعُوا عَلَيْهَا كَانُوا
يَسْتَرِيحُونَ بَيْنَ كُلّ تَسْلِيمَتَيْنِ (فتح البارى في كتاب صلاة
التراويح) “Shalat jamaah yang dilaksanakan pada setiap malam bulan
Ramadhan dinamai Tarawih karena para sahabat pertama kali
melaksanakannya, beristirahat pada setiap dua kali salam. Istilah
Shalat Tarawih disebut juga shalat Qiyam Ramadhan, yang populer pada
masa Umar Ibn Al-Khattab ra. Dengan tujuan utamanya ialah, menghidupkan
malam-malam bulan Ramadhan dengan ibadah sholat. Shalat Tarawih
termasuk salah satu ibadah yang utama dan efektif guna mendekatkan diri
kepada Allah. Sebenarnya, menghidupkan malam Ramadhan, bukan saja
tarawih. Namun, sholat merupakan ibadah paling utama, dan ini telah
dilakukan oleh jumhur (sebagian sahabat Nabi Muhammmad Saw). Sesuai
dengan penuturan Nabi Saw yang artinya:’’ barang siapa menghidupkan
Ramadhan dengan Qiyam atas dasar Iman dan semata-mata karena mengharap
pahala Allah Swt, maka dosa-dosa akan mendapat ampunan (HR
Bukhori). Jadi, baik KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asary
tidak pernah ada perbedaan di dalam pelaksanaan ubudiyah. Ketua PP.
Muhammdiyah, Yanuar Ilyas ini menuturkan, KH. Ahmad Dahlan pada masa
hidupnya banyak menganut fiqh mahzab Syafi’i, termasuk mengamalkan
qunut dalam shalat subuh dan shalat tarawih 23 rakaat. Namun, setelah
berdirinya Majelis Tarjih pada masa kepemimpinan Kyai Haji Mas Mansyur,
terjadilah revisi – revisi, termasuk keluarnya Putusan Tarjih yang
menuntunkan tidak dipraktikkannya doa qunut didalam shalat subuh dan
jumlah rakaat shalat tarawih yang sebelas rakaat (Taqiyuddin
Al-Baghdady: Mutiara Sejarah Islam di Indonesia KH Ahmad Dahlan).
Sedangkan alasan yang dikemukan oleh dewan tarjih, karena Muhamamdiyah
bukan Dahlaniyah. Jadi, hakekat
sholat Tarawih yang diajarkan oleh ulama sekaliber KH Ahmad Dahlan
sudah sesuai dengan ajaran Nabi Saw dan sahabatnya (Ijma’ Sahabat).
Praktek di Makkah dan Madinah hingga sekarang juga tetap 20 rakaat dan
3 witir. Jadi, melaksanakan Tarawih 20 rakaat ditambah dengan 3 wirit
berarti melaksanakan kesepakatan ratusan sahabat Nabi Muhamamd Saw,
sekaligus bentuk kesetiaan terhadap Nabi Saw. Bagi pengikut
Muhammadiyah, menjadi bukti kesetiaan terhadap perintis dan penggagas
Muhamamdiyah sejati.
Kepribadian
Kepribadian adalah keseluruhan cara seorang individu
bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain.[1] Kepribadian paling
sering dideskripsikan dalam istilah sifat yang bisa diukur yang
ditunjukkan oleh seseorang.
Disamping itu kepribadian sering
diartikan dengan ciri-ciri yang menonjol pada diri individu, seperti
kepada orang yang pemalu dikenakan atribut “berkepribadian pemalu”.
Kepada orang supel diberikan atribut “berkepribadian supel” dan kepada
orang yang plin-plan, pengecut, dan semacamnya diberikan atribut “tidak
punya kepribadian”.
Definisi kepribadian menurut psikologi
Berdasarkan psikologi, Gordon Allport
menyatakan bahwa kepribadian sebagai suatu organisasi (berbagai aspek
psikis dan fisik) yang merupakan suatu struktur dan sekaligus proses.
Jadi, kepribadian merupakan sesuatu yang dapat berubah. Secara eksplisit
Allport menyebutkan, kepribadian secara teratur tumbuh dan mengalami
perubahan.[2]
Ciri-ciri kepribadian
Para
ahli tampaknya masih sangat beragam dalam memberikan rumusan tentang
kepribadian. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh
Gordon W. Allport (Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, 2005) menemukan
hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. Berangkat dari
studi yang dilakukannya, akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang
kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Menurut pendapat dia bahwa
kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem
psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri
terhadap lingkungannya. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah
penyesuaian diri. Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai
“suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun
mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri,
ketegangan emosional, frustrasi dan konflik, serta memelihara
keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma)
lingkungan.
Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas
perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan
individu lainnya. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur
psiko-fisiknya, misalnya konstitusi dan kondisi fisik, tampang, hormon,
segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh,
sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang
bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Untuk
menjelaskan tentang kepribadian individu, terdapat beberapa teori
kepribadian yang sudah banyak dikenal, diantaranya : teori Psikoanalisa
dari Sigmund Freud, teori Analitik dari Carl Gustav Jung, teori Sosial
Psikologis dari Adler, Fromm, Horney dan Sullivan, teori Personologi
dari Murray, teori Medan dari Kurt Lewin, teori Psikologi Individual
dari Allport, teori Stimulus-Respons dari Throndike, Hull, Watson, teori
The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. Sementara itu, Abin
Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian, yang di
dalamnya mencakup :
- Karakter yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.
- Temperamen yaitu disposisi reaktif seorang, atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan.
- Sikap; sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif atau ambivalen.
- Stabilitas emosi yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Seperti mudah tidaknya tersinggung, marah, sedih, atau putus asa
- Responsibilitas (tanggung jawab) adalah kesiapan untuk menerima risiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Seperti mau menerima risiko secara wajar, cuci tangan, atau melarikan diri dari risiko yang dihadapi.
- Sosiabilitas yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
Setiap
individu memiliki ciri-ciri kepribadian tersendiri, mulai dari yang
menunjukkan kepribadian yang sehat atau justru yang tidak sehat. Dalam
hal ini, Elizabeth (Syamsu Yusuf, 2003) mengemukakan ciri-ciri
kepribadian yang sehat dan tidak sehat, sebagai berikut :
Kepribadian yang sehat
- Mampu menilai diri sendiri secara realisitik; mampu menilai diri apa adanya tentang kelebihan dan kekurangannya, secara fisik, pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.
- Mampu menilai situasi secara realistik; dapat menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang dialaminya secara realistik dan mau menerima secara wajar, tidak mengharapkan kondisi kehidupan itu sebagai sesuatu yang sempurna.
- Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik; dapat menilai keberhasilan yang diperolehnya dan meraksinya secara rasional, tidak menjadi sombong, angkuh atau mengalami superiority complex, apabila memperoleh prestasi yang tinggi atau kesuksesan hidup. Jika mengalami kegagalan, dia tidak mereaksinya dengan frustrasi, tetapi dengan sikap optimistik.
- Menerima tanggung jawab; dia mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.
- Kemandirian; memiliki sifat mandiri dalam cara berfikir, dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di lingkungannya.
- Dapat mengontrol emosi; merasa nyaman dengan emosinya, dapat menghadapi situasi frustrasi, depresi, atau stress secara positif atau konstruktif , tidak destruktif (merusak)
- Berorientasi tujuan; dapat merumuskan tujuan-tujuan dalam setiap aktivitas dan kehidupannya berdasarkan pertimbangan secara matang (rasional), tidak atas dasar paksaan dari luar, dan berupaya mencapai tujuan dengan cara mengembangkan kepribadian (wawasan), pengetahuan dan keterampilan.
- Berorientasi keluar (ekstrovert); bersifat respek, empati terhadap orang lain, memiliki kepedulian terhadap situasi atau masalah-masalah lingkungannya dan bersifat fleksibel dalam berfikir, menghargai dan menilai orang lain seperti dirinya, merasa nyaman dan terbuka terhadap orang lain, tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan untuk menjadi korban orang lain dan mengorbankan orang lain, karena kekecewaan dirinya.
- Penerimaan sosial; mau berpartsipasi aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki sikap bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.
- Memiliki filsafat hidup; mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat hidup yang berakar dari keyakinan agama yang dianutnya.
- Berbahagia; situasi kehidupannya diwarnai kebahagiaan, yang didukung oleh faktor-faktor achievement (prestasi), acceptance (penerimaan), dan affection (kasih sayang).
Kepribadian yang tidak sehat
- Mudah marah (tersinggung)
- Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan
- Sering merasa tertekan (stress atau depresi)
- Bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain yang usianya lebih muda atau terhadap binatang
- Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang meskipun sudah diperingati atau dihukum
- Kebiasaan berbohong
- Hiperaktif
- Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas
- Senang mengkritik/mencemooh orang lain
- Sulit tidur
- Kurang memiliki rasa tanggung jawab
- Sering mengalami pusing kepala (meskipun penyebabnya bukan faktor yang bersifat organis)
- Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama
- Pesimis dalam menghadapi kehidupan
- Kurang bergairah (bermuram durja) dalam menjalani kehidupan
Faktor-faktor penentu kepribadian
Faktor keturunan
Keturunan
merujuk pada faktor genetika seorang individu.[1] Tinggi fisik, bentuk
wajah, gender, temperamen, komposisi otot dan refleks, tingkat energi
dan irama biologis adalah karakteristik yang pada umumnya dianggap,
entah sepenuhnya atau secara substansial, dipengaruhi oleh siapa orang
tua dari individu tersebut, yaitu komposisi biologis, psikologis, dan
psikologis bawaan dari individu.[1]
Terdapat tiga dasar
penelitian yang berbeda yang memberikan sejumlah kredibilitas terhadap
argumen bahwa faktor keturunan memiliki peran penting dalam menentukan
kepribadian seseorang.[1] Dasar pertama berfokus pada penyokong genetis
dari perilaku dan temperamen anak-anak. [1] Dasar kedua berfokus pada
anak-anak kembar yang dipisahkan sejak lahir.[1] Dasar ketiga meneliti
konsistensi kepuasan kerja dari waktu ke waktu dan dalam berbagai
situasi.[1]
Penelitian terhadap anak-anak memberikan
dukungan yang kuat terhadap pengaruh dari faktor keturunan.[3] Bukti
menunjukkan bahwa sifat-sifat seperti perasaan malu, rasa takut, dan
agresif dapat dikaitkan dengan karakteristik genetis bawaan.[3] Temuan
ini mengemukakan bahwa beberapa sifat kepribadian mungkin dihasilkan
dari kode genetis sama yang memperanguhi faktor-faktor seperti tinggi
badan dan warna rambut.[3]
Para peneliti telah mempelajari lebih
dari 100 pasangan kembar identik yang dipisahkan sejak lahir dan
dibesarkan secara terpisah.[4] Ternyata peneliti menemukan kesamaan
untuk hampir setiap ciri perilaku, ini menandakan bahwa bagian variasi
yang signifikan di antara anak-anak kembar ternyata terkait dengan
faktor genetis.[1] Penelitian ini juga memberi kesan bahwa lingkungan
pengasuhan tidak begitu memengaruhi perkembangan kepribadian atau dengan
kata lain, kepribadian dari seorang kembar identik yang dibesarkan di
keluarga yang berbeda ternyata lebih mirip dengan pasangan kembarnya
dibandingkan kepribadian seorang kembar identik dengan saudara-saudara
kandungnya yang dibesarkan bersama-sama.[1]
Faktor lingkungan
Faktor
lain yang memberi pengaruh cukup besar terhadap pembentukan karakter
adalah lingkungan di mana seseorang tumbuh dan dibesarkan; norma dalam
keluarga, teman, dan kelompok sosial; dan pengaruh-pengaruh lain yang
seorang manusia dapat alami.[1] Faktor lingkungan ini memiliki peran
dalam membentuk kepribadian seseorang.[1] Sebagai contoh, budaya
membentuk norma, sikap, dan nilai yang diwariskan dari satu generasi ke
generasi berikutnya dan menghasilkan konsistensi seiring berjalannya
waktu sehingga ideologi yang secara intens berakar di suatu kultur
mungkin hanya memiliki sedikit pengaruh pada kultur yang lain.[1]
Misalnya, orang-orang Amerika Utara memiliki semangat ketekunan,
keberhasilan, kompetisi, kebebasan, dan etika kerja Protestan yang terus
tertanam dalam diri mereka melalui buku, sistem sekolah, keluarga, dan
teman, sehingga orang-orang tersebut cenderung ambisius dan agresif bila
dibandingkan dengan individu yang dibesarkan dalam budaya yang
menekankan hidup bersama individu lain, kerja sama, serta
memprioritaskan keluarga daripada pekerjaan dan karier.[1]
Sifat-sifat kepribadian
Berbagai
penelitian awal mengenai struktur kepribadian berkisar di seputar upaya
untuk mengidentifikasikan dan menamai karakteristik permanen yang
menjelaskan perilaku individu seseorang.[1] Karakteristik yang umumnya
melekat dalam diri seorang individu adalah malu, agresif, patuh, malas,
ambisius, setia, dan takut.[5] Karakteristik-karakteristik tersebut jika
ditunjukkan dalam berbagai situasi, disebut sifat-sifat kepribadian.[5]
Sifat kepribadian menjadi suatu hal yang mendapat perhatian cukup besar
karena para peneliti telah lama meyakini bahwa sifat-sifat kepribadian
dapat membantu proses seleksi karyawan, menyesuaikan bidang pekerjaan
dengan individu, dan memandu keputusan pengembangan karier.[5]
Cara identifikasi kepribadian
Terdapat
sejumlah upaya awal untuk mengidentifikasi sifat-sifat utama yang
mengatur perilaku.[6] Seringnya, upaya ini sekadar menghasilkan daftar
panjang sifat yang sulit untuk digeneralisasikan dan hanya memberikan
sedikit bimbingan praktis bagi para pembuat keputusan organisasional.[6]
Dua pengecualian adalah Myers-Briggs Type Indicator dan Model Lima
Besar.[6] Selama 20 tahun hingga saat ini, dua pendekatan ini telah
menjadi kerangka kerja yang dominan untuk mengidentifikasi dan
mengklasifikasikan sifat-sifat seseorang.[6]
Myers-Briggs Type Indicator
Myers-Briggs Type Indicator
(MBTI)[7] adalah tes kepribadian menggunakan empat karakteristik dan
mengklasifikasikan individu ke dalam salah satu dari 16 tipe
kepribadian. Berdasarkan jawaban yang diberikan dalam tes tersebut,
individu diklasifikasikan ke dalam karakteristik ekstraver atau
introver, [sensitif]] atau intuitif, pemikir atau perasa, dan memahami
atau menilai[6]. Instrumen ini adalah instrumen penilai kepribadian yang
paling sering digunakan.[8] MBTI telah dipraktikkan secara luas di
perusahaan-perusahaan global seperti Apple Computers, AT&T,
Citgroup, GE, 3M Co., dan berbagai rumah sakit, institusi pendidikan,
dan angkatan bersenjata AS.[8]
Model Lima Besar
Myers-Briggs
Type Indicator kurang memiliki bukti pendukung yang valid, tetapi hal
tersebut tidak berlaku pada model lima faktor kepribadian -yang biasanya
disebut Model Lima Besar.[6] Selama beberapa tahun terakhir, sejumlah
besar penelitian mendukung bahwa lima dimensi dasar saling mendasari dan
mencakup sebagian besar variasi yang signifikan dalam kepribadian
manusia.[9] Faktor-faktor lima besar mencakup ekstraversi, mudah akur
dan bersepakat, sifat berhati-hati, stabilitas emosi, dan terbuka
terhadap hal-hal baru.[9]
Menilai kepribadian
Sepuluh kartu yang digunakan dalam Rorschach Inkblot test.
Alasan
paling penting mengapa manajer perlu mengetahui cara menilai
kepribadian adalah karena penelitian menunjukkan bahwa tes-tes
kepribadian sangat berguna dalam membuat keputusan perekrutan.[1] Nilai
dalam tes kepribadian membantu manajer meramalkan calon terbaik untuk
suatu pekerjaan.[1]
Terdapat tiga cara utama untuk menilai kepribadian[1]:
- Survei mandiri
- Survei peringkat oleh pengamat
- Ukuran proyeksi (Rorschach Inkblot test dan Thematic Apperception Test)
Sifat kepribadian utama yang memengaruhi perilaku organisasi
Evaluasi inti diri
Evaluasi
inti diri adalah tingkat di mana individu menyukai atau tidak menyukai
diri mereka sendiri, apakah mereka menganggap diri mereka cakap dan
efektif, dan apakah mereka merasa memegang kendali atau tidak berdaya
atas lingkungan mereka.[10] Evaluasi inti diri seorang individu
ditentukan oleh dua elemen utama: harga diri dan lokus kendali.[10]
Harga diri didefinisikan sebagai tingkat menyukai diri sendiri dan
tingkat sampai mana individu menganggap diri mereka berharga atau tidak
berharga sebagai seorang manusia.[10]
Machiavellianisme
Machiavellianisme
adalah tingkat di mana seorang individu pragmatis, mempertahankan jarak
emosional, dan yakin bahwa hasil lebih penting daripada proses.[10]
Karakteristik kepribadian Machiavellianisme berasal dari nama Niccolo
Machiavelli, penulis pada abad keenam belas yang menulis tentang cara
mendapatkan dan menggunakan kekuasaan.[10]
Narsisisme
Narsisisme
adalah kecenderungan menjadi arogan, mempunyai rasa kepentingan diri
yang berlebihan, membutuhkan pengakuan berlebih, dan mengutamakan diri
sendiri.[1] Sebuah penelitian mengungkap bahwa ketika individu narsisis
berpikir mereka adalah pemimpin yang lebih baik bila dibandingkan dengan
rekan-rekan mereka, atasan mereka sebenarnya menilai mereka sebagai
pemimpin yang lebih buruk.[1] Individu narsisis seringkali ingin
mendapatkan pengakuan dari individu lain dan penguatan atas keunggulan
mereka sehingga individu narsisis cenderung memandang rendah dnegan
berbicara kasar kepada individu yang mengancam mereka.[1] Individu
narsisis juga cenderung egois dan eksploitif, dan acap kali memanfaatkan
sikap yang dimiliki individu lain untuk keuntungannya[1].
Pemantauan diri
Pemantauan
diri adalah kemampuan seseorang untuk menyesuaikan perilakunya dengan
faktor situasional eksternal.[11] Individu dengan tingkat pemantauan
diri yang tinggi menunjukkan kemampuan yang sangat baik dalam
menyesuaikan perilaku dengan faktor-faktor situasional eksternal[11].
Bukti menunjukkan bahwa individu dengan tingkat pemantauan diri yang
tinggi cenderung lebih memerhatikan perilaku individu lain dan pandai
menyesuaikan diri bila dibandingkan dengan individu yang memiliki
tingkat pemantauan diri yang rendah.[11]
Kepribadian tipe A
Donald Trump adalah individu berkepribadian tipe A.
Kepribadian
tipe A adalah keterlibatan secara agresif dalam perjuangan
terus-menerus untuk mencapai lebih banyak dalam waktu yang lebih sedikit
dan melawan upaya-upaya yang menentang dari orang atau hal lain.[12]
Dalam kultur Amerika Utara, karakteristik ini cenderung dihargai dan
dikaitkan secara positif dengan ambisi dan perolehan barang-barang
material yang berhasil.[12] Karakteristik tipe A adalah:[12]
- selalu bergerak, berjalan, dan makan cepat;
- merasa tidak sabaran;
- berusaha keras untuk melakukan atau memikirkan dua hal pada saat yang bersamaan;
- tidak dapat menikmati waktu luang;
- terobsesi dengan angka-angka, mengukur keberhasilan dalam bentuk jumlah hal yang bisa mereka peroleh.
Kepribadian proaktif
Kepribadian
proaktif adalah sikap yang cenderung oportunis, berinisiatif, berani
bertindak, dan tekun hingga berhasil mencapai perubahan yang berarti.
Pribadi proaktif menciptakan perubahan positif daalam lingkungan tanpa
memedulikan batasan atau halangan.
Langganan:
Komentar (Atom)









